JAKARTA - Penggunaan sistem rangka baja ringan pada konstruksi rumah-rumah di Indonesia bisa dibilang bagaikan sedang memasuki tahap pendekatan. Masih banyak masyarakat yang tidak paham bahkan belum tahu, tentang seluk beluk rangka baja ringan, sehingga bisa membuatnya tertarik menggunakannya.
Menurut Engineering & Development Manager PT NS Bluescope Lysaight, Irosa Wahyudi, rangka baja ringan memiliki sejumlah keunggulan, pertama Jika diibandingkan dengan rangka kayu, baja tidak pernah kena rayap.
"Kayu sekarang yang banyak digunakan adalah kayu kelas 3 ke bawah, bukan kelas II lagi, seperti jati," kata dia kala ditemui di Jakarta, semalam.
Kedua, yakni kecepatan dalam membangun rumah. Dari pengalamannya dalam membangun satu rumah contoh tipe 36 hanya memakan waktu selama seminggu.
Ketiga, yakni struktur rangka baja yang ringan, keempat rangka baja tidak mudah lapuk, dan kelima memiliki beragam material yang dapat disesuaikan dengn kondisi daerah, misalnya yang dekat air laut hingga di perkotaan pada sekalipun.
"Untuk di daerah dekat laut, ada tipe lapisan baja khusus yang bisa dipakai. Material-materialnya juga sudaj disesuaikan kontur rural/perkotaan," jelas Irosa.
Lebih lanjut dia mengungkapkan, soal biaya pembangunan yang dibutuhkan, berdasarkan pengalamannya membangun perumahan dengan tipe 42 m2 yang menggunakan dinding bata dan atap rangka baja ringan, menghabiskan sekira Rp31 juta per unit. Biaya tersebut sudah termasuk penutup atap dan di luar pondasi. Anda tertarik?
(Yuni Astutik)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.