Share

"Aturan DP Rumah Berdasarkan Tipe Ketinggalan"

Nur Januarita Benu, Jurnalis · Rabu 14 Agustus 2013 14:17 WIB
https: img.okezone.com content 2013 08 14 471 849438 ssgzSwTInE.jpg Ilustrasi (Foto: Ist.)

JAKARTA - Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda menuturkan, akan lebih baik bila Bank Indonesia meredam aksi spekulasi dalam kaitannya dengan besaran harga rumah dan bukan tipe rumah. Hal ini terkait keputusan BI yang memberlakukan loan to value (LTV) 70 persen dan uang muka KPR 30 persen untuk rumah dengan tipe di atas 70 meter persegi (m2) sejak tahun lalu.

"Dengan bertumbuhnya daya beli masyarakat, maka rumah seharga Rp200 juta sampai Rp500 jutaan bukanlah termasuk kategori mewah lagi melainkan menengah. Karenanya aturan BI dengan membatasi dari sisi tipe rumah merupakan kebijakan yang sudah ketinggalan," ujarnya seperti dikutip dalam situs IPW, Rabu (14/8/2013).

Dia menambahkan, berdasarkan data pertumbuhan KPR tipe 70 ke atas tumbuh lebih tinggi 40,5 persen per April, lalu 25,9 persen pada Mei 2013. Tipe 22-70 tumbuh 18,1 persen per April, dan naik jadi 18,7 persen pada Mei.

Sementara untuk KPR sampai dengan tipe 21, minus 27,6 persen pada April dan minus 29 persen pada Mei 2013. Pertumbuhan rumah untuk tipe 70 ke atas semata-mata jangan dilihat sebagai aksi spekulasi melainkan merupakan bertumbuhnya kaum menengah di perkotaan.

"Bila Bank Indonesia akan meredam aksi spekulasi yang ada maka yang harus menjadi target adalah rumah segmen menengah atas dan itu tidak dapat dianalogikan dengan besaran tipe rumah melainkan dengan membatasi dari variabel harga rumah untuk rumah minimal Rp1 miliar," tegasnya.

Dirinya berharap Bank Indonesia dapat menerapkan kebijakan LTV yang lebih tepat sehingga tidak memberatkan kaum end user yang membeli rumah pertama.

(NJB)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini