"Presiden Jokowi sebenarnya sudah tahu ekonomi melambat dari awal tahun, dari pas dilantik juga sudah tahu," Deputi Staf Kepresidenan bidang Ekonomi Purbaya Yudhi Sadewa di Kantor Staf Kepresidenan, Jakarta, Selasa (5/5/2015).
Menurut Purbaya, hal ini dikarenakan APBN 2015 yang disusun pemerintah sebelumnya tidak sesuai dengan konsep Nawa Cita Presiden Jokowi. Untuk itu lah diubah menjadi APBN-Perubahan 2015, walaupun pada dasarnya program Jokowi dalam APBN-P 2015 tidak semuanya ter-cover.
"Cuma kan program-programnya enggak sesuai dengan prosedur APBN. Belum semuanya cair. Maka April-Mei 2015 sering ke daerah yang dikejar adalah proyek infrastruktur, groundbreaking dan lain-lain. Untuk percepat serapan anggaran," ungkapnya.
Purbaya menambahkan, walaupun Presiden Jokowi sudah mengetahui perlambatan pertumbuhan ekonomi pada tahun ini, namun dirinya memberikan instruksi untuk menjaga stabilitas ekonomi serta menciptakan pertumbuhan yang lebih cepat.
"Infrastruktur salah satu alat untuk dorong percepatan pertumbuhan ekonomi. Menteri PUPR sudah siap gelontorkan Rp92 triliun-Rp93 triliun pada April-Mei ini. Masuk 20 persen dari situ. Tapi dampaknya akan semakin kelihatan," paparnya.
Purbaya mengungkapkan, dengan adanya percepatan pembangunan infrastruktur ini akan mendorong daya beli masyarakat, sehingga menciptakan pertumbuhan ekonomi.
"Tapi saat bangun, tetap saja beli semen dan lain-lain, ada yang kerja di situ, makan di warung. Jadi pasti ada dampak positif dari pembangunan. Yang penting pemerintah harus tunjukkan program betul-betul dijalankan. Januari-Maret belum terlalu, tapi April-Mei sudah berjalan sedikit-sedikit. Daya beli dijaga, harga dijaga, momentum pertumbuhan dijaga ke depan dengan bangun proyek yang sudah dicanangkan, harusnya kita tidak jatuh lagi," tukasnya.
(Rizkie Fauzian)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.