Lanjut Agus mengungkapkan, tidak hanya itu, koreksi pertumbuhan ekonomi China pun menggangu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tercatat, sejak 2014 hingga saat ini, perekonomian China diperkirakan hanya tumbuh 6,8 persen. Hal ini membuat permintaan pasar ekspor dari Indonesia ke China berkurang.
"Jadi kondisi dari pertumbuhan ekonomi yang relatif lebih rendah, itu dipengaruhi antara lain karena mineral yang lemah, dan pertumbuhan sektor kalaupun ada, itu kecil. Dan ini berdampak kepada pertumbuhan ekonomi yang 4,7 persen," ungkapnya.
Disisi lain, faktor dalam negeri yang mempengaruhi perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah APBN-Perubahan 2015 baru selesai pada bulan Februari, sehingga aliran dana untuk pembangunan infrastruktur terlambat.
"Ada juga 10 kementerian yang nomenklaturnya musti disesuaikan. Sehingga pengeluaran pemerintah masih terhambat," tukasnya.
(Fakhri Rezy)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.