"Kalau bangun smelter juga perlu diperhatikan industri lanjutan smelter. Kalau gak dikelola dengan baik akan tidak ekonomis dan menimbulkan limbah. Limbahnya asam sulfat. Kalau ada industri lanjutannya, asam sulfat ini bisa menjadi pupuk. Di Papua tidak ada," jelas dia.
Limbah lainnya yang akan dihasilkan smelter adalah gypsum yang juga masuk kategori B3. Padahal, terang Maroef, limbah gypsum tersebut dapat diolah menjadi bahan baku pembuatan semen yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Papua.
Selain itu, Rencana pengembangan smelter di Gresik juga tidak terlepas dari rencana Freeport untuk memproduksi mineral dengan konsentrat mencapai 100 persen.
"Smelter di Gresik hanya menghasilkan 40 persen dari konsentrat. Padahal, pemerintah menggariskan supaya 100 persen. Sehingga, kami perlu pengembangan di Gresik," pungkasnya.
(Widi Agustian)