Tapi setelah kewenangan berada di ISC, banyak tangan yang bermain. Posisi di Jakarta ternyata lebih mudah diobok-obok, terutama oleh politisi yang perusahaan lokalnya ternyata bermitra dengan trader di luar negeri. Akhirnya, ISC dibekukan dan perannya dibalikkan ke PES. Jadi, wajar saja jika ada yang berpendapat, kalau peran ISC kembali dimainkan dengan menjadikan PES sebagai kambing hitam, bisa-bisa ini justru mengulangi kesalahan yang dulu pernah dibuat.
Wajar pula jika Salah satu anggota tim RTKM Fahmy Radhi juga termasuk yang tak setuju pembubaran Petral. "Pandangan ini lebih bersifat antisipatif. Kami khawatir, pasca pembubaran Petral ada penggantinya yang justru dimainkan oleh mafia migas. Intinya, pemburu rente itu bermain di impor," katanya di Jakarta.
Sayangnya, dia tak membeberkan secara mendetail perihal dunia mafia migas tadi. "Modus mereka dengan mendorong kewenangan impor dan jual beli kembali ke tangan Pertamina atau perusahaan yang lain. Artinya, problem terbesarnya sebenarnya pada ketergantungan impor kita," ujarnya.
Pastinya, posisi Indonesia sebagai negara importir minyak terbesar di dunia menjadikan proses pengadaan bahan bakar ini selalu mengundang sorotan. Bisnis basah dengan uang super jumbo itu tentunya harus mendapat perhatian ekstra, entah itu diadakan oleh PES maupun ISC. Alhasil, rencana penutupan Petral Grup dan menggantikannya dengan ISC tidak akan ada manfaatnya apabila tata niaga, revitalisasi kilang dan upaya menemukan sumber minyak baru tidak pernah dilakukan. (Wahyu Arifin, Fahmi Bahtiar dan Budi Yuni Harto)
(Fakhri Rezy)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.