Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dulu Dihindari, Kini Limbah B3 Diburu Pengusaha

Oris Riswan , Jurnalis-Kamis, 17 September 2015 |13:22 WIB
Dulu Dihindari, Kini Limbah B3 Diburu Pengusaha
Ilustrasi limbah B3. (Foto: Okezone)
A
A
A

BANDUNG - Limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) yang selama ini lebih banyak dibuang, kini mulai diminati pengusaha. Para pengusaha pun berbondong-bondong untuk mengelola limbah tersebut jadi sesuatu yang bermanfaat.

"Dari data yang ada, jumlah pemohon yang mengajukan jadi pengolah limbah B3 semakin meningkat," kata Staf Ahli Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Bidang Industri dan Perdagangan Internasional, Laksmi Dewanti, di Bandung, Kamis (17/9/2015).

Pada periode 2013-2014, jumlah perusahaan pengelola limbah B3 ada 821 meningkat 77 persen dibanding sebelumnya. Dari jumlah tersebut, total ada 14.38 orang yang menjadi tenaga kerja.

Adapun jumlah limbah B3 yang diolah, mencapai 193 juta ton. Limbah B3 yang diolah itu di antaranya katalis bekas, aki bekas, fly ash dan bottom ash, dan sludge oil.

Setelah diolah, limbah B3 itu di antaranya bisa digunakan untuk bahan konstruksi jalan, bahan batako, bahan baku pada industri semen, recovery logam berharga, hingga dijadikan bahan bakar alternatif.

Untuk mendapatkan limbah B3, para pengusaha mendapatkannya dari berbagai industri yang ada di Indonesia. "Bahkan banyak yang berupaya melakukan impor limbah B3 karena mereka kekurangan limbah untuk diolah," ungkap Laksmi.

Bersama Kementerian Lingkungan Hidup, Laksmi mengaku terus berupaya melakukan sosialisasi agar limbah bisa dimanfaatkan dengan baik. Sehingga ke depan limbah B3 tidak lagi dibuang sembarangan, terutama oleh pelaku industri.

Dalam saat bersamaan, pemerintah pun mempertegas pengaturan dan hukum bagi pihak yang membuang limbah B3 sembarangan. "Mudah-mudahan ini bisa jadi efek jera (bagi pelaku industri pembuang limbah B3)," tandas Laksmi.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement