Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

China Butuh USD5,6 Triliun Selamatkan Perekonomiannya

Raisa Adila , Jurnalis-Selasa, 12 Januari 2016 |00:12 WIB
China Butuh USD5,6 Triliun Selamatkan Perekonomiannya
Ilustrasi : Reuters
A
A
A

JAKARTA - China (Tiongkok) saat ini sedang dilanda permasalahan yang cukup serius. Hal ini membuat China perlu mengambil beberapa tindakan besar untuk mengembalikan perekonomiannya.

Seperti diketahui, China berurusan dengan nilai tukar mata uangnya yang jatuh, pasar saham sangat fluktuatif dan margin perusahaan yang menipis untuk menggerakkan pertumbuhan negaranya.

"Suntikan kredit lebih besar sangat mungkin terjadi di 2016, tapi kita perlu untuk melihat angka sebesar 37,5 triliun yuan (USD5,6 triliun) pada 2016 mencapai dorongan kredit yang besarnya sama dengan tahun 2009," tulis Peneliti Otonomi Charlene Chu, mengutip Business Insider, Selasa (12/1/2016).

Angka-angka tersebut, lanjutnya didasarkan pada perhitungan internal dari Total Pembiayaan Sosial (TSF) China, sebuah metrik pemerintah yang dikembangkan untuk melacak berapa banyak uang yang mengalir melalui ekonomi.

Hal ini tentunya menjadi sulit bagi pemerintah. Akan tetapi, langkah-langkah stimulus yang telah diterapkan selama setahun terakhir ternyata tidak benar-benar bekerja.

"Tuas kebijakan moneter lain tidak berdampak, atau efektivitasnya terbatas dalam gelombang deflasi China, perlambatan industri sekunder dan kelebihan kapasitas," kata Chu.

"Pemotongan suku bunga dapat membantu meringankan beban utang, tetapi tidak cukup untuk mengatasi ini," lanjut dia.

Selama terdepresiasinya yuan, kas China memang menunjukkan hal yang sangat menakjubkan. Pada Desember 2015, China bahkan menghabiskan cadangan devisanya USD108 miliar untuk menjaga mata uang.(rai)

(Rani Hardjanti)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement