JAKARTA - Pembangunan proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung diprediksi akan merugikan pemerintah. Sebab, belum jelasnya target penumpang kereta cepat akan dapat menyulitkan pemerintah untuk mencapai titik break event point (BEP) dari biaya proyek pengerjaan yang mencapai USD5,5 miliar.
Menurut mantan anggota DPR RI 2009-2014 Chandra Tirta Wijaya, berdasarkan hitung-hitungan dari jumlah penumpang Jakarta-Bandung, pemerintah akan mengalami kerugian dalam proyek kereta cepat. Pasalnya, untuk mencapai titik BEP, diperlukan 50.000 orang penumpang setiap harinya.
"Modal untuk kereta cepat itu kan setara Rp77 triliun, dan China itu bunganya dua persen. Artinya satu hari pemasukannya itu harus Rp10 miliar. Bayangkan saja, butuh 50.000 orang per hari bolak-balik untuk mencapai target BEP," ujar Chandra dalam acara diskusi publik di Gedung Nusantara III DPR RI, Jakarta, Selasa (2/2/2016).
Padahal, lanjut Chandra, dengan 16 jam perjalanan per hari, kereta cepat hanya dapat menampung sekira 16.000 orang per hari apabila selalu dipenuhi penumpang.
"Namun kan tidak pasti penuh. Siapa yang mau pulang pergi Jakarta-Bandung bolak-balik per hari dengan biaya mahal," jelasnya.