JAKARTA - Tahun 2016 merupakan tahun kedua Program Sejuta Rumah yang meluncur 29 April 2015. Megaprogram itu menjadi darah segar bagi sektor properti, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Bagaimana laju kredit properti? Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia yang terbit medio Maret 2016 menunjukkan pertumbuhan kredit naik 11,73 persen dari Rp545,72 triliun per Januari 2015 menjadi Rp609,73 triliun per Januari 2016. Angka itu menipis dari 11,86 persen per Desember 2015. Kredit konstruksi naik cukup signifikan 15,69 persen dari Rp141,10 triliun per Januari 2015 menjadi Rp163,24 triliun per Januari 2016.
Kredit real estate melesat 20,37 persen dari Rp88,32 triliun menjadi Rp106,31 triliun. KPR dan KPA hanya naik 7,55 persen dari Rp316,30 triliun menjadi Rp340,18 triliun. Tak dapat dibantah, Program Sejuta Rumah menjadi stimulus yang amat berarti bagi sektor properti yang lesu akibat perlambatan ekonomi.
Program itu meliputi 603.516 unit rumah untuk MBR dengan gaji (penghasilan) Rp4 juta untuk Rumah Sejahtera Tapak (landed house ) dan Rp7 juta untuk Rumah Sejahtera Susun (vertical house). Sisanya, 396.484 unit rumah untuk komersial (non-MBR). Sarinya, sebagian besar (60 persen) program itu diperuntukkan bagi MBR yang disalurkan melalui program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dengan uang muka 1 persen.
Selain itu, suku bunga tetap 5 persen hingga masa kredit 20 tahun. Boleh dikatakan program raksasa itu telah mendorong penjualan rumah terutama level menengah ke bawah. Untuk memacu penjualan rumah untuk menengah ke atas, pemerintah juga telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 103/2015 tentang Pemilikan Rumah Tinggal atau Hunian oleh Orang Asing yang berkedudukan di Indonesia.
Faktor Kunci Keberhasilan
Lantas, faktor kunci keberhasilan apa yang layak dipenuhi untuk memperlancar proyek raksasa itu?
Pertama, menjaga pasokan subsidi tidak boleh terlambat karena dapat mengganggu kelancaran pembangunan perumahan. Pemerintah telah memperlihatkan komitmen dengan meningkatkan alokasi dana FLPP dari Rp5,1 triliun pada 2015 menjadi Rp9,3 triliun pada 2016.
Hal itu akan mendorong penyaluran KPR FLPP lebih lancar lagi. Bagaimana kinerja BTN yang merupakan satu-satunya bank nasional sebagai penyalur KPR FLPP? Data menunjukkan, BTN telah menyalurkan KPR FLPP untuk 125.400 unit rumah pada 2015. Laba bersih tahunan terbang 64 persen dari Rp1,12 triliun per Desember 2014 menjadi Rp1,85 triliun per Desember 2015.
Adapun imbal hasil aset (return on assets /ROA) naik dari 0,77 persen menjadi 1,08 persen meskipun masih di bawah ambang batas 1,5 persen. Sementara itu, imbal hasil ekuitas (return on equity /ROE) melejit dari 9,14 persen menjadi 13,35 persen melewati ambang batas 12 persen.
Dengan bahasa lebih bening, tak dapat dibantah bahwa program itu telah memberikan kontribusi bagi BTN untuk meningkatkan kinerja. Lebih dari itu, rasio kredit bermasalah (non-performing loan /NPL) BTN makin membaik dari 4,5 persen per Juli-September 2015 menjadi 3,42 persen dari Oktober- Desember 2015. Intinya, manajemen risiko kredit BTN makin membaik.
Kedua, BTN hendaknya tidak melupakan untuk terus menggenjot modal. Modal merupakan senjata pamungkas untuk menghadapi persaingan mengingat kini makin banyak bank nasional yang terjun menggarap kredit konsumsi seperti KPR dan KPA. Tengok saja, beberapa bank nasional papan atas terus mengerek modal pada 2016.
Bank Mandiri akan menggali pinjaman bilateral USD500 juta-1 miliar dan BRI segera menerbitkan obligasi berkelanjutan tahap II Rp4,65 triliun dan BNI dengan negotiable certificate of deposit (NCD) senilai Rp4 triliun dan obligasi Rp4 triliun. Menyusul kemudian Bank Permata akan menawarkan rights issue Rp5,5 triliun, Bank BJB Rp1,5 triliun, Bank Mayapada Rp1 triliun, dan Bank Sinarmas Rp100 miliar.
Ketiga, menggalakkan pameran. Selama ini pameran BTN Property Expo di Jakarta selalu menghasilkan buah manis. BTN Property Expo pada 15-23 Agustus 2015 mampu meraih tambahan KPR Rp1,6 triliun. Angka itu melampaui target yang ditetapkan Rp1,5 triliun.
Wow ! Begitu pula BTN Property Expo pada 13-21 Februari lalu, pastilah memenuhi target. Pameran semacam itu sepatutnya bukan hanya di Jakarta, juga di beberapa kota potensial seperti Bandung, Bandung Selatan, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Makassar, Medan, dan Denpasar.
Mengapa? Lantaran pameran itu menjadi instrumen pemasaran yang seksi untuk mengundang calon debitur dan investor. Apalagi ketika pameran itu menawarkan aneka stimulus seperti diskon, suku bunga kredit satu digit, suku bunga kredit tetap dengan tenor lebih panjang, dan hadiah yang cantik. Tentu saja, BTN mau tak mau wajib menggandeng mesra para pengembang.
(Rizkie Fauzian)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.