Sebelumnya pada sepanjang tahun perpustakaan mengalami banyak renovasi, namun tetap saja beberapa masalah struktural masih ditemui seperti kurangnya isolasi dan kurangnya infrastruktur seperti sistem drainase yang ditutup, bagian lantai yang rusak dan keretakan kayu balok.
"Salah satu aspek yang paling mengejutkan tentang pemulihan sebuah bangunan tua adalah bahwa Anda tidak pernah tahu apa yang ada dibalik dinding," kata Aziza seperti dilansir dari worldbulletin, Jumat (17/6/2016).
Aziza juga mengatakan, dalam memelihara bangunan bersejarah perlu adanya keseimbangan yang baik antara menjaga ruang asli dan memenuhi kebutuhan saat ini termasuk seperti pengguna mahasiswa, peneliti, dan pengunjung dan mengintegrasikan teknologi berkelanjutan.
Setelah tiga tahun direnovasi, perpustakaan kembali dibuka pada Mei 2016 lalu, perpustakaan terdiri dari ruang baca, tumpukan buku, ruang konferensi, laboratorium pemulihan naskah, dan koleksi buku langka, serta kantor administrasi dan sebuah kafe. Aziza juga menggunakan furnitur berbahan kayu asli lokal.
(Rizkie Fauzian)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.