nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Yogyakarta Termiskin di Pulau Jawa

Koran SINDO, Jurnalis · Selasa 19 Juli 2016 13:25 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2016 07 19 320 1441413 yogyakarta-termiskin-di-pulau-jawa-AcMIxzgRJW.jpg Ilustrasi : Okezone

YOGYAKARTA – Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) jadi provinsi termiskin di Pulau Jawa. Angka kemiskinannya pada 2015 tercatat 13,20 persen atau lebih tinggi dari nilai rata-rata nasional yang sebesar 11,13 persen. Namun, DIY berpeluang jadi kekuatan ekonomi di Jawa, terutama Jawa bagian Selatan.

Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Sri Adiningsih menegaskan, kemiskinan di DIY memang masih yang tertinggi di Pulau Jawa. Persentasenya masih di atas lima provinsi lainnya, yakni DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. ”Tingkat kemiskinan di DIY masih 13,20 persen, tertinggi di Jawa,” kata Adiningsih dalam diskusi yang digelar Sekretariat DPRD DIY kemarin.

Menurut dia, mengutip Badan Pusat Statistik (BPS) 2016, dari enam provinsi di Pulau Jawa, tiga di antaranya memiliki angka kemiskinan di atas ratarata nasional, yakni DIY 13,20 persen, Jawa Tengah (13,15 persen) dan Jawa Timur (12 persen). Sedangkan, tiga provinsi lain tingkat kemiskinannya di bawah ratarata nasional, yakni Jawa Barat (9,50 persen), Banten (7 persen), dan DKI Jakarta (3,5 persen). ”DIY masih kalah dengan Jawa Tengah,” imbuhnya.

Guru besar dan dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) ini mengungkapkan, dua kabupaten yang menjadi kantong kemiskinan di DIY adalah Gunungkidul dan Kulonprogo. ”Kemiskinan di dua daerah itu memang tidak mudah dientaskan,” kata dia. Adiningsih mengungkapkan, dilihat dari tren pengurangan angka kemiskinan dari tahun ke tahun, DIY terus membaik.

”Angka kemiskinan DIY masih tergolong tinggi, terutama sebelum 2012. Gap dengan nasional masih di atas 4 persen, namun sejak 2012 gapnya hanya 2 persen,” katanya. Meski begitu, alumnus S-3 University of Illinois, AS, ini mengungkapkan bahwa DIY memiliki peluang besar untuk menjadi pusat perekonomian di Jawa, khususnya di Jawa bagian Selatan. Salah satu pendukungnya adalah objek wisata yang marak di Gunungkidul serta pembangunan bandara baru di Kulonprogo. ”Saya percaya dan yakin, meski tidak dilewati oleh Tran- Java, tapi (DIY) mampu menjadi pusat ekonomi di Jawa selatan,” tegasnya.

Menurut dia, faktor pendorong DIY menjadi kekuatan ekonomi di Jawa adalah destinasi wisata nasional setelah Bali. DIY juga merupakan pusat pendidikan. Terbukti, banyak universitas di DIY yang masuk level tingkat nasional dan internasional. ”Jadi, letak DIY itu strategis, berada di tengah-tengah Pulau Jawa, sehingga akan mampu membangun pusat perdagangan,” jelasnya.

Di sisi Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah DIY Rani Syamsinarsi mengakui, angka kemiskinan di DIY memang masih cukup tinggi, bahkan lebih tinggi dari rata-rata nasional. Namun, Pemprov DIY memiliki tiga isu strategis yang akan dikerjakan guna menekan angka kemiskinan itu. ”Tiga isu strategis itu adalah menekan angka kemiskinan, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan memangkas ketimpangan wilayah,” ungkapnya.

Rani mengungkapkan, Pemprov DIY sudah menganalisis angka kemiskinan tinggi, salah satunya karena iklim investasi selama ini menemui kendala, terutama akses. ”Kami bertekad bahwa kendala akses itu harus dihilangkan, dan saat ini sudah mulai berjalan, yakni pembangunan JJLS (Jalur Jalan Lintas Selatan) dan Bandara,” tegasnya.

Dia mengatakan, JJLS menjadi peluang besar dalam menghilangkan kendala akses investasi, sehingga pemprov sangat mendukung penuh rencana itu. ”Kami juga beruntung memiliki Danais (Dana Keistimewaan) untuk pembebasan lahan JJLS,” kata Rani. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (DPUPESDM) DIY ini menegaskan, DIY memiliki peluang besar menjadi kekuatan ekonomi di Jawa.

Sebab, DIY memiliki modal yang membedakannya daerah lain, berada di tengah, luas daerah kecil, serta memiliki sumber daya manusia yang luar biasa. ”Memang kami (DIY) tidak punya sumber daya alam, tapi punya SDM luar biasa,” tegasnya. Menurut Rani, DIY juga memiliki letak geografis strategis. Setidaknya, dua dari delapan pengembangan wilayah strategis nasional bersentuhan dengan DIY.

”Akses Jogja-Bawen-Semarang serta Jogja-Blitar-Malang. Itu termasuk pengembangan wilayah strategis nasional,” ungkapnya. Rani mengatakan, untuk pemerataan investasi, Pemprov DIY sedang menggeliatkan sektor pariwisata di daerah pinggiran yang selama ini belum digarap serius.

Beberapa objek wisata tersebut adalah Kawasan Sermo-Menoreh-Suroloyo, Glagah-Trisik, Kasongan-Tembi, Parangtritis-Depok-Kuwaru, Baron-Sundak, Siung -Weediombo- Sadeng, serta Karst Wonosari.

(rai)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini