NUSA DUA – Komoditas timah berperan penting dalam semua industri manufaktur. Oleh karena itu, harus ada upaya maksimal untuk meningkatkan nilai tambah timah guna menopang industri.
Pengamat ekonomi Faisal Basri mengatakan, Indonesia harusmemanfaatkankomoditas timah sebaik mungkin agar dalam 15 tahun ke depan tidak kehabisan karena diekspor. ”Jangan diekspor mentah supaya ada peninggalan kita yangberarti. Sehingga, dalam15 tahun ada nilai tambah.
Kalau tidak begitu, nanti seperti minyak, dulu kita eksportir, sekarangmenjadiimportir,” ujar Faisal di Nusa Dua, Bali.
Saat ini, ujar Faisal, timah diekspor ke berbagai negara dalam bentuk ingot atau timah balok lalu diolah di Jepang, Korea, dan negara lain dan selanjutnya diimpor lagi oleh Indonesia.
”Kita punya bahan baku, kita pakai timah tapi industri antaranya tidak ada. Sama seperti bauksit, sekarang dilarang ekspor bauksit supaya muncul smelter alumina. Kan aneh, kita produsen bauksit 40 juta ton pada 2014, punya industri aluminium, tapi tidak punya alumina selama ini,” ungkap Faisal.
Dia menegaskan, komoditas timah diserap hampir oleh semua industri. Bahkan, untuk beberapa industri seperti kelistrikan, timah sebagai penghantar listrik yang tidak ada substitusinya. ”Kalau penggunaan emas dan perak harganya lebih mahal dari pada timah. Kecuali kalau tidak ada sama sekali timah, orang akan pakai emas dan perak tapi jauh harganya,” ujarnya.
Menurut Faisal, harga timah dipengaruhi oleh kinerja industri, di mana jika perekonomian dunia tumbuh tinggi maka penggunaan komoditas timah akan mengikuti. ”Kira-kira 30-50 persen output dunia itu industri manufaktur. Jadi kalau manufakturnya resesi, maka ekonomi dunia melemah,” tuturnya.
Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Bachrul Chairi mengatakan, meski ekonomi dunia masih melemah, kebutuhan dunia terhadap timah meningkat seiring dengan berkembangnya produk elektronik.
”Jika pertumbuhan ekonomi dunia membaik, nantinya pertumbuhan industri timah juga akan bergerak cepat. Ini merupakan kesempatan Indonesia untuk mengembangkan produk timah,” ujarnya. Bachrul melanjutkan, Indonesia merupakan eksportir dan produsen timah terbesar di dunia.
Bahkan, harga timah dunia mulai mengikuti acuan dari bursa berjangka di dalam negeri, dalam hal ini Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX). ”Timah waktu itu termasuk yang terancam. Maka, pemerintah harus segera melanjutkan tindakan untuk melakukan penjualan melalui media bursa, dan harus memenuhi aspek lingkungan,” ujar dia.
Selain lingkungan, kata Bachrul, sebuah industri harus memenuhi kewajiban mereka terhadap negara dalam bentuk royalti dan memenuhi konsep suistainable. Menurut Bachrul, dengan adanya aturan tersebut, harga timah dunia bisa mengikuti harga penjualan Indonesia.
”Sekarang kalau lihat trennya selama tiga tahun terakhir justru London Metal Exchange (LME) mengikuti harga ICDX, artinya posisi daripada pembentukan harga itu sudah beralih karena kita memenuhi kontribusi Indonesia terhadap dunia,” ungkapnya.
(Widi Agustian)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.