YOGYAKARTA - Dodo, 30, asyik bercengkerama bersama istri dan anaknya di teras rumah yang dipayungi atap baja ringan.
Siang itu keluarga pengungsi korban gempa hebat Yogyakarta pada 27 Mei 2006 ini mengobrol ringan sambil menunggu pembeli es jus yang dijajakan sang istri di depan rumah mereka di Kompleks New Ngelepen, Prambanan, Sleman, Yogyakarta.
Rumah dum yang ditinggali Dodo dan keluarganya sejak 2008 tersebut kini sudah berkembang. Awalnya benar-benar mirip iglo di eskimo atau banyak pula yang menyebutnya rumah Teletubbies berdiameter 7 meter dan tinggi 4,6 meter. Bangunan asli terdiri atas dua lantai dengan dua pintu, empat jendela, dan dua kamar. Kini rumah di sisi selatan New Ngelepen tidak jauh dari gapura “Desa Wisata Rumah Dome” tersebut sudah memiliki teras dan bangunan tambahan di bagian belakang.
Rumah-rumah di sana kons-truksinya memang dirancang mirip kubah dan tanpa sambungan agar tahan terhadap guncangan gempa. Rumah dum dibuat dengan cetakan berbentuk balon (air form ) yang kemudian dicor beton semen. Lantai dua didominasi kayu dengan ventilasi udara tepat di bagian puncak. Sebanyak 80 bangunan dum di perkampungan itu dibangun oleh World Association of Non-governmental Organizations (WANGO) dan Domes for The World Foundation dengan donatur tunggal Ali Alabar, pengusaha properti dari Dubai.
Sebagian warga di New Ngelepen merupakan pindahan dari rumah-rumah dum di kawasan perbukitan Dusun Sengir, Sumberharjo, Yogyakarta, yang sudah tak layak huni lantaran tanahnya ambles hingga 6 meter. Dodo menambah teras depan di rumah dumnya sebagai tempat bersantai sekaligus berjualan. Posisi rumahnya cukup strategis untuk berjualan karena berada di pinggir jalan masuk ke Pedukuhan Nglepen. “Sedangkan bagian belakang saya tambah untuk dapur dan aktivitas lain. Kalau dapur tidak di belakang, kami tidak bisa masak karena asapnya akan mengganggu ke dalam rumah,” jelas Dodo.