nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Masalah Lahan hingga Budget Jadi Kendala Pembangunan Huntara di Palu

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 08 April 2019 12:48 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 04 08 470 2040492 masalah-lahan-hingga-budget-jadi-kendala-pembangunan-huntara-di-palu-OT7MsbEpGw.jpg Foto: Giri Hartomo

JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus mengejar pembangunan hunian sementara (huntara) untuk korban bencana di Palu dan Donggala.

Kepala Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Bencana Kementerian PUPR Arie Setiadi Moerwanto mengatakan, ada beberapa kendala yang harus dihadapi oleh pihaknya untuk menyediakan hunian kepada masyarakat. Kendala pertama adalah akses listrik air bersih.

"Problemnya adalah listrik dan air. Seperti diketahui listrik dan air sangat susah di Palu," ujarnya dalam acara paparan di Kementerian PUPR, Jakarta, Senin (8/4/2019).

 Baca Juga: Korban Gempa Sulteng Bisa Huni 1.200 Huntara Mulai Desember

Sebagai salah satu contohnya adalah pembangunan rumah sementara di Palu. Dari 285 rumah yang sudah dibangun di Palu, baru 281 huntara yang memiliki akses 100% air bersih dan listrik.

"Dari jumlah tersebut ini adalah lokasinya Palu ada 22 lokasi yang kita bangunkan Huntara. Yang sudah selesai 285 yang sudah ada listrik dan air 281," katanya.

Selain itu lanjut Arie, tantangan selanjutnya adalah masalah ketersediaan lahan. Lahan di sana memang cukup terbatas apalagi ada beberapa tanah yang dilarang untuk mendirikan bangun.

Sebab menurutnya, tanah tersebut masih sangat rawan akan bencana. Misalnya saja ada beberapa titik yang memiliki potensi likuifaksi ataupun ada saluran jaringan gas.

"Jadi ini tantangan lain, ketersediaan lahan juga tantangan tersendiri," ucapnya.

 Baca Juga: 44.000 Warga Palu Bakal Menempati Hunian Sementara

Selanjutnya adalah ada pada tantangan harga rumah. Banyak pengembang yang ikut membantu membangun rumah hunian sementara itu mengeluhkan keterbatasan dana.

Dana yang ditetapkan oleh pemerintah sendiri adalah Rp50 juta per rumah. Selain itu, rumah yang dibangun juga harus tahan gempa dan memiliki tipe 36.

"Ini tantangan lain rumahnya harus harganya Rp50 juta, harus anti gempa," ucapnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini