Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Gencarkan Rumah Tahan Gempa di Indonesia

Koran SINDO , Jurnalis-Minggu, 15 Januari 2017 |11:41 WIB
Gencarkan Rumah Tahan Gempa di Indonesia
(Foto: Koran Sindo)
A
A
A

Tidak hanya karena berada di jalur pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia, Indonesia juga berada pada kawasan yang memiliki gunung aktif. Tercatat hingga 2016, ada 19 gunung api aktif yang tersebar beberapa wilayah Indonesia seperti Sumatera, Jawa, Bali, dan Sulawesi. Maka itu, tak heran apabila pengadaan rumah tahan gempa menjadi agenda yang krusial untuk menekan jumlah korban bencana alam tersebut.

“Rancangannya tentu harus khusus. Konstruksi bangunan tidak permanen. Unsur struktur bangunan seperti kolom rumah dan slope diperkuat, sementara unsur nonstruktur dibuat seringan mungkin seperti tembok agar tidak fatal saat rubuh,” ungkap peneliti geoteknologi dan paleoseismologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Eko Yulianto. Dosen Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman, Nanang Gunawan Wariyatno, mengatakan, bagian bawah bangunan yang tepat di atas tanah sebisa mungkin menggunakan materialmaterial yang sangat ringan agar mengikuti pergerakan buki ketika ada goyangan atau guncangan gempa.

“Tentu tidak sekadar ringan, tapi kuat sesuai prinsip tulangan dari SNI (Standar Nasional Indonesia),” jelas Nanang. Tulangannya atau pembesian dalam bahasa konstruksi harus tetap dan menerus. Bukan berarti tidak boleh menyambung, namun ada persyaratan tertentu terkait panjang penyaluran yang harus diarahkan. Sambungan pada tulangan harus dirancang memadai, memperhatikan beban yang akan diterima, panjang penyaluran yang dibutuhkan, dan letak sambungan.

Untuk membuat rumah tinggal menjadi tahan gempa, perlu dipahami prinsip-prinsip dasarnya meliputi denah yang sederhana dan beraturan atau simetris, bahan bangunan harus seringan mungkin dan perlunya sistem konstruksi penahan beban yang memadai. “Gaya gempa harus dapat disalurkan setiap elemen struktur kepada struktur utama penahan gaya horizontal yang kemudian memindahkan gaya-gaya ini ke fondasi dan ke tanah. Struktur utama penahan gaya horizontal itu bersifat liat karena akan menghindari terjadi keruntuhan yang bersifat tiba-tiba,” terang Nanang.

Selera Pasar

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement