nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Impor Pertamax Diprediksi Terus Naik

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 10 April 2017 12:55 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 04 10 320 1663331 impor-pertamax-diprediksi-terus-naik-HvrkaFt0ts.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - PT Pertamina (persero) mencatat impor bahan bakar minyak (BBM) jenis pertamax (RON 92) sepanjang tahun lalu mencapai 12 juta barel, atau naik dibandingkan tahun sebelumnya 8 juta barel. Sementara impor BBM jenis premium (RON 88) 73,4 juta barel atau turun 25% dibandingkan tahun 2015.

Senior Vice President Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina Daniel Purba mengatakan, impor pertamax pada 2016 meningkat karena adanya lonjakan konsumsi yang mencapai hampir tiga kali lipat. “Pada 2017, kami memproyeksikan impor pertamax akan meningkat seiring dengan lonjakan konsumsi sehingga dibutuhkan impor yang lebih besar. Diproyeksikan impor pertamax naik 11 juta barel dan premium turun 11 juta barel, jadi seimbang,” ujarnya di Jakarta pekan lalu.

Daniel memaparkan, impor premium diprediksi turun pada 2017 menjadi 62 juta barel dari sebelumnya 73,4 juta barel pada 2016. Sementara impor pertamax diprediksi naik menjadi 36 juta barel dari semula 25 juta barel. “Penurunan impor mogas (motor gasoline ) 88 sebesar 25 juta barel pada 2016. Ini karena secara keseluruhan kilang Trans Pacific Petroleum Indotama (TPPI) di Tuban, Jawa Timur dan Residual Fluid Catalytic Cracker (RFCC) Cilacap, Jawa Tengah sudah beroperasi,” jelasnya. Daniel melanjutkan, impor gas elpiji juga terus meningkat. Pertamina memprediksi kenaikan impor gas elpiji pada tahun 2017 sebesar 4,95 juta ton.

“Ini naik dari impor pada 2016 yang sebesar 4,4 juta ton,” imbuhnya. Menurut dia, kenaikan impor gas elpiji dikarenakan konversi minyak tanah ke gas sudah semakin meluas. Selain permintaan dari elpiji semakin meningkat, suplai dalam negeri juga cenderung menurun. “Sehingga untuk menyeimbangkannya kita impor elpiji,” ungkapnya. Daniel menambahkan, sejak 2015 Pertamina membuka kesempatan secara terbuka bagi semua potential supplier untuk menawarkan minyak mentah ke Pertamina.

“Realisasi di dua tahun terakhir ini kami bias mendapatkan penawaran yang lebih kompetitif dibandingkan tahun sebelumnya,” tuturnya. Daniel menuturkan, pihaknya menargetkan bisa melakukan penghematan USD100 juta pada 2017.

(kmj)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini