YOGYAKARTA - Frame kacamata biasanya dibuat dari bahan plastik dengan campuran aluminium atau logam dan biasanya dibuat oleh pabrik dengan peralatan mesin namun di Bantul, Yogyakarta. Seorang perajin berkreasi membuat frame kacamata dari bahan kayu, tempurung kelapa bahkan dari tanduk sapi dan kerbau.
Berawal dari ide kreatifnya membuat frame kacamata dengan bahan kayu, seorang pria warga kampung Senggotan kecamatan Kasihan Bantul, Yogyakarta bernama Bendot Waliyo berhasil menarik minat pengguna kacamata untuk beralih menggunakan frame kacamata buatannya yang terkesan unik dan natural.
Sejak tahun 2011, Bendot Waliyo mulai berkreasi membuat kacamata kayu di rumah sederhana yang selain menjadi tempat tinggal bersama keluarganya juga menjadi bengkel kerja pembuatan kacamata yang diberi label tarawangsa eyewear. Pada awal pembuatan kacamata kayu ini bendot sering mendapat cibiran dari para tetangganya yang menganggap kacamata kayu tidak akan laku dijual.
Namun kini Bendot yang merupakan jebolan disainer interior institut seni Indonesia. Ini berhasil menepis cibiran orang lewat kacamata kayunya yang sudah banyak dikenal orang sebagai produk kacamatan yang cukup fashionable dan laris dipasaran.
Pada awalnya Bendot membuat kacamata dari bahan kayu tertentu seperti kayu ulin, Sonokeling, Jati Eboni, Cendana, mepel dan kemuning yang memiliki kelenturan sehingga tidak mudah patah sewaktu kacamata digunakan. Namun seiring dengan permintaan para konsumen yang menginginkan kacamata yang kuat, lentur dan nyaman dipakai, Bendot mulai menggunakan tanduk sebagai bahan pembuatan frame kacamata.
Tanduk Sapi maupun kerbau biasanya dibeli dari seorang pedagang dari luar Yogyakarta. Tanduk kemudian dipotong menjadi bentuk kepingan sehingga mudah untuk menempelkan pola sesuai keinginan dan pesanan konsumen. Meskipun terbuat dari tanduk kerbau, frame kacamata buatan bendot dijamin cukup kuat dan tidak mudah dan tidak kalah kualitasnya dengan buatan pabrik.
Justru karya bendot memiliki nilai lebih karena dibuat secara handmade. Melalui tangan terampil bendot dan memiliki nilai seni yang tidak terdapat dalam kacamata buatan pabrik. Saat ini bendot tengah mengerjakan pesanan kacamata berbahan batok kelapa yang dipesan oleh warga Italia yang pernah berkunjung ke rumahnya.
“Semula pemesan meminta sebanyak 1.000 buah kacamata batok untuk dikirim ke Italia dalam waktu 3 bulan, namun terpaksa menolak dan hanya bisa mengerjakan maksimal 200 buah kacamata batok dalam waktu 3 bulan,” ujarnya.
Penolakan tersebut bukan tanpa alasan karena selama ini bendot waliyo mengerjakan pembuatan kacamata hanya seorang diri. Dia sengaja tidak mencari pembantu dalam pembuatan kacamata karena tidak semua orang bisa membuat frame kacamata yang presisi kuat seperti yang diinginkannya.
Bendot memasarkan kacamata buatannya melalui media sosial dan merekrut reseller untuk berbagi rejeki serta mengikuti sejumlah pameran kerajinan. Dalam sehari bendot hanya mampu membuat 2 buah kacamata kayu maupun tanduk.
Kacamata berbahan tanduk buatan bendot di dijual ke pasaran dengan harga Rp1,5 juta hingga Rp1,7 juta. Dalam sebulan bendot bisa menjual rata rata 5 hingga 7 buah kacamata kayu atau tanduk dengan penghasilan berkisar Rp7 juta hingga Rp10 juta per bulan.
(Fakhri Rezy)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.