Kemenperin mencatat, kinerja ekspor industri furnitur Indonesia pada tahun 2016 sebesar USD1,6 miliar. Sementara itu, berdasarkan data Centre for Industrial Studies (CSIL), nilai perdagangan furniture dunia pada tahun 2016 mencapai USD131 miliar. “Tahun 2017, nilai ekspor furnitur dunia diprediksi meningkat menjadi USD 138 miliar,” ungkap Panggah.
Adapun kebijakan pemberian fasilitas tax allowance untuk investasi industri furnitur di luar Jawa. Bahkan, dalam upaya peningkatan kualitas produk furnitur nasional, Kemenperin telah meresmikan program pendidikan vokasi yang link and match antara SMK dan industri serta pembangunan Politeknik Furnitur di Jawa Tengah.
Mencermati kondisi pasar dunia saat ini, Panggah optimistis, Indonesia mampu menjadi pemain utama industri furnitur di dunia. “Karena kita punya keunggulan yang kompetitif melalui ketersediaan bahan baku, tenaga kerja yang memadai dan keberagaman desain,” tuturnya. Selain itu, peluang untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik juga masih sangat besar.
Untuk itu, menurutnya, upaya maksimal dari semua pihak terkait perlu dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut, terutama dalam perbaikan sistem logistik bahan baku, produktivitas industri, inovasi produk, dan juga promosi yang lebih luas.
Apalagi, lanjut Panggah, pengembangan industri nasional diarahkan kepada industri yang menghasilkan produk-produk yang memiliki nilai tambah tinggi, banyak memanfaatkan sumber daya alam lokal, kompetitif di pasar global dan ramah lingkungan. “Industri mebel dan kerajinan merupakan sektor yang memenuhi kriteria tersebut,” tegasnya.