Image

Bangun 100.000 Homestay, Pemerintah Gandeng REI

Koran SINDO, Jurnalis · Jum'at 19 Mei 2017, 10:46 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 05 19 470 1694847 bangun-100-000-homestay-pemerintah-gandeng-rei-o3NZGffE4U.jpg Ilustrasi: Reuters

JAKARTA - Pemerintah menargetkan membangun 2.000 desa wisata dengan 100.000 unit kamar tipe homestay hingga 2019. Program ini melibatkan lintas kementerian/lembaga dan pelaku usaha properti. 


Berdasarkan survei yang dilakukan Kementerian Pariwisata, dari total 75.000 desa terdapat sekitar 2.043 desa yang potensial untuk menjadi desa wisata dan sudah memiliki homestay . Secara bertahap, pemerintah menargetkan ketersediaan 20.000 unit kamar tipe homestay pada 2017, dilanjutkan 30.000 unit pada 2018, dan 50.000 unit pada 2019, sehingga total akan ada 100.000 unit homestay pada 2019. 

Untuk mencapai target tersebut, Kementerian Pariwisata sebagai fasilitator membagi menjadi empat mekanisme, yakni konversi, renovasi, revitalisasi, dan membangun baru homestay . Pembangunan tersebut melibatkan peran kementerian/ lembaga terkait serta pelaku usaha terkait seperti asosiasi Real Estate Indonesia (REI). 

Selain itu, pendanaan homestay desa wisata melibatkan peran Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, pihak investor, dan BUMN. ”Ada empat skema pembiayaan. Ada yang sewa, bagi hasil, dari kredit usaha rakyat atau kredit perumahan rakyat, serta melalui program corporate social responsibility atau dana desa,” ujar Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya di selasela rapat kerja nasional bidang pariwisata di Jakarta kemarin. 

Menurut Arief, homestay menjadi solusi paling tepat mengingat secara perhitungan ekonomi maupun waktu akan sulit membangun hotel di desa-desa. Selain itu, tidak sedikit wisatawan Nusantara dan mancanegara yang lebih memilih tinggal di homestay lantaran lebih murah dan ingin merasakan pengalaman interaksi dengan masyarakat atau budaya setempat. 

Secara sederhana, homestay memiliki konsep low-cost tourism dengan menggunakan arsitektur Nusantara dengan rencana pembangunan selama enam bulan. Pembangunan homestay yang mengacu pada standar homestay Asia diperkirakan menelan Rp100-200 juta per unit. Standar tersebut, misalnya, terkait fasilitas jaringan internet (Wi-Fi ), kamar mandi dengan fasilitas shower dan WC duduk. 

Menurut Arief, negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand sudah lebih dulu mengembangkan homestay yang sesuai standar regional. ”Kalau kita tidak bisa membangun 20.000 kamar homestay tahun depan, seumur-umur kita akan dikalahkan bangsa lain. Makanya kita minta komitmen REI untuk membangun homestay. 

Sejalan dengan prinsip ekonomi berbagi, kita juga akan dukung promosi dan pemasarannya secara digital,” ungkap Menpar. Ketua Umum REI Soelaeman Soemawinata mengatakan, REI dengan 3.000 anggota yang tersebar di berbagai daerah memiliki multiproduk dan multikompetensi, salah satunya di bidang pariwisata dengan membangun hotel dan resor di kota-kota besar dan destinasi wisata. 

Dengan adanya program pemerintah untuk mengembangkan 100.000 kamar homestay, REI pun berkomitmen untuk mendukung. ”Selama ini REI memang belum pernah berkecimpung di homestay . Tapi sama halnya dengan program sejuta rumah, dalam program homestay ini kami bisa berperan dalam mendorong percepatan,” ujarnya. 

Menurut Soelaeman, saat ini beberapa anggota REI terutama di daerah yang merupakan 10 destinasi wisata prioritas seperti Wakatobi, Morotai, Borobudur, sudah mulai melakukan survei dan mencari tanah yang nantinya bisa dimanfaatkan juga untuk membangun homestay . ”Kami belum bisa memastikan berapa jumlah unit yang akan dibangun. 

Selain itu, ada beberapa hal yang harus didalami lagi, misalnya terkait skema pembiayaan, aspek hukumnya dan pemasarannya, termasuk juga bagaimana kita bisa berkolaborasi dengan aspek muatan lokal,” tuturnya. Tidak semata tempat menginap, homestay juga menjadi gerbang peluang bisnis jasa yang baru. 

Peluang tersebut diikuti dengan bisnis lain seperti penyewaan kendaraan, jasa kuliner, jasa parkir, jasa pemandu wisata, jasa binatu, dan cenderamata khas. Semua peluang tersebut membutuhkan SDM sehingga homestay dinilai sebagai bisnis yang mampu membuka lowongan kerja dengan sendirinya. 

Selain itu, homestay juga bisa menjadi atraksi wisata. Homestay memiliki daya tarik budaya yang sekaligus memungkinkan interaksi turis dengan penduduk setempat. Sementara sebagai amenitas, homestay dapat dijadikan tempat tinggal yang sehat, bersih, dan aman, bagi masyarakat sekaligus wisatawan, dengan pengelolaan berstandar internasional.  (tro)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini