nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Wishnutama Kagumi Kantor Menteri Basuki yang Asri

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 07 November 2019 13:13 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 11 07 470 2126873 wishnutama-sebut-kantor-kemenparekraf-lebih-mirip-dengan-diskotik-ttxPrNbxZF.jpg Wishnutama soal Kantor Kemenparkraf (Foto: Okezone.com/Giri)

JAKARTA - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama heran dengan Kantor Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Pasalnya, kantor tersebut sama sekali tidak menggambarkan sebagai kantor lembaga pariwisata.

 Baca Juga: Tak Harus Canggih, Wishnutama: Bandara di Kawasan Pariwisata Harus Unik

Wishnu mengatakan, saat pertama kali dilantik sebagai Menteri dan langsung menuju kantor, dirinya heran mengapa kantornya terlihat seperti diskotik. Karena bangunannya yang dipenuhi besi-besi modern dan justru menghilangkan kearifan lokalnya.

"Saya waktu serah terima jabatan sebagai Menteri pas masuk lobinya heran 'kok besi semua'. Ini pariwisata atau apa? Kok kayak diskotik. Saya jadi bingung ini apa," ujarnya dalam sebuah diskusi di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (7/11/2019).

 Baca Juga: Duet Wishnutama-Angela Targetkan Pariwisata Jadi Penyumbang Devisa Terbesar Indonesia

Bahkan, dirinya mengaku iri dengan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono yang memiliki kantor yang asri. Kantor yang dimiliki oleh Menteri Basuki juga mencirikan sekali idenitias dari Kementeriannya.

"Saya jealous sama Menteri PUPR Basuki Hadimuljono wilayahnya asri sejuk banget," ucapnya.

 Wisnutama

Hal ini berbeda dengan kantornya yang justru lebih terlihat terlalu modern dan mengurangi esensi lokalnya. Ditambah lagi, kantor Kementeriannya juga seringkali menjadi spot demo masyarakat karena berada berdekatan dengan Monumen Nasional (Monas) dan Istana Kepresidenan.

"Kalau di situ (Kantor Kemenparekraf) kan sudah di depannya demo. Ya mungkin lama-lama akan terbiasa dengan demo," katanya.

Namun, bukan berarti dirinya melarang kantor yang modern. Justru jika modern dipadukan dengan kearifan lokal bisa akan terlihat lebih bagus dan menarik.

"Jadi ini harus dari segala macam. Jadi memang tidak melulu harus masif (modern semua), (harus) ada tawaran yang berbeda," ucapnya.(dni)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini