Share

Penyediaan dan Penghematan Energi seperti 2 Sisi Mata Uang

Rizkie Fauzian, Jurnalis · Minggu 21 Mei 2017 10:34 WIB
https: img.okezone.com content 2017 05 21 320 1696227 penyediaan-dan-penghematan-energi-seperti-2-sisi-mata-uang-3te00Kn2pO.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

BALIKPAPAN - Energi dianggap menjadi salah satu kebutuhan pokok yang harus bisa dipenuhi. Oleh karena itu, setiap wilayah seharusnya bisa turut menikmati energi yang sama dengan wilayah lainnya.

Kenyataannya, 87% total energi nasional dinikmati oleh mayoritas masyarakat perkotaan saja. Sementara itu, 2.500 desa di Indonesia masih gelap gulita.

Hal ini mendorong Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) gencar menggalakkan program hemat energi. Tujuannya tentu saja agar wilayah-wilayah yang selama ini belum tersentuh listrik bisa juga menikmatinya.

Menurut Direktur Jenderal energi baru, terbarukan, dan konservasi energi Rida Mulyana, penghematan dan penyediaan energi ini seperti dua sisi mata uang yang harus selalu bersamaan. Namun penghematan yang terkadang banyak dilupakan oleh orang-orang.

"Sering terlupakan, mungkin karena murah, atau memang boros, atau mungkin mereka merasa tidak terlalu terganggu. Itu terkadang memang egois. Tapi negara modern itu kan enggak mungkin kalau enggak ada listrik," jelasnya di Balikpapan, Minggu (21/5/2017).

Untuk itu, kementerian ESDM gencar melakukan kampanye penghematan energi 10 persen agar seluruh wilayah dapat merasakan energi. Terutama karena beberapa daerah di wilayah timur belum mampu menikmati energi sepenuhnya.

"Kenapa 10%, karena dengan 10 saja kita bisa menghasilkan energi tanpa mengeluarkan investasi. Kita hanya butuh mengubah kebiasaan kita, dimulai dari rumah masing-masing, coba matikan lampu yang tempatnya tidak digunakan," ungkapnya.

Sebagai informasi, pada 2014 ada 11 provinsi yang dikategorikan sebagai kota dengan konsumsi energi tertinggi, banten , jabar, DKI jakarta, jatim, jateng, sumut, sumsel, sulsel, bali, riau, dan lampung. Dari 11 provinsi tersebut apalgi dilakukan penghematan 10% maka dapat menghemat 17.411 gwh atau hemat pembangunan 3,2 GW pltu baru senilai Rp43,2 triliun.

Selain itu, mampu melistriki seluruh daerah 6 provinsi di indonesia timur atau sekira 2.527. 469 kk (9.970.286 jiwa). Artinya bisa juga meningkatkan rasio kelistrika hingga 100%.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini