Pada saat yang sama, inovasi yang dijalankan Arwana menghasilkan berbagai varian produk baru, seperti keramik lantai berukuran 50x50 cm dengan motif marble, rustic, wood, dan fancy decorative.
Terkait harga pokok penjualan, Arwana mampu meningkatkan efisiensi melalui penerapan metode lean manufacturing. Adapun struktur biaya produksi tidak mengalami perubahan signifikan biaya energi seperti gas dan listrik masih merupakan komponen terbesar, yakni 41,9%.
Rudy melanjutkan, tahun ini perseroan menargetkan laba bersih naik sebesar 44% atau sebesar Rp130 miliar. "Volume penjualan kami targetkan 52 juta meter persegi atau dari segi volume akan tumbuh 13%," jelasnya.
Rudi menambahkan, tahun ini perseroan tidak ada rencana untuk pembangunan tambahan kapasitas sehingga capex cukup terbatas. "Capex tahun ini tidak akan lebih dari Rp30 miliar. Kami targetkan tahun ini hanya untuk pembelian beberapa unit mesin. Jadi hanya investasi penopang tidak ada investasi jangka panjang untuk penambahan kapasitas produksi," katanya.
Chief Operating Officer Arwana Edy Suyanto mengatakan, tahun ini perseroan akan melakukan ekspor perdana ke beberapa negara, seperti Brunei Darussalam, Malaysia, dan Filipina. "Dengan inovasi, langkah ekspor kami terbuka lebar. Ekspor tidak gampang karena negara tetangga seperti Malaysia, Brunei, itu sesama ASEAN yang sangat dekat dengan Vietnam dan China," ujarnya.