”Transisi ini akan menjadi tantangan besar bagi perusahaan Jepang lainnya,” kata Takahiro Kazahaya, dari Deutsche Securities, dilansir Financial Times.
Kendati pengeluaran konsumen di Jepang sedang menurun, pendapatan tahunan Donki tumbuh sebesar 12% menjadi 684 miliar yen. Chief Executive baru Donki, Koji Oohara, menargetkan dapat meraih pertumbuhan sebesar 6,7% pada tahun ini. ”Kami sadar kompetisi akan menjadi lebih ketat, tapi kami memiliki struktur yang kuat,” imbuhnya.
Para ahli mengatakan, salah satu hal yang membuat investor asing cemas ialah rencana Oohara dalam lima tahun ke depan dan ketajamannya memilih tempat untuk membuka toko baru atau saat melakukan akuisisi. Yasuda kini telah pindah ke Singapura, tempat asal istrinya, dan berperan sebagai penasihat pembuatan strategi pengembangan.
”Ketika Yasuda mengumumkan kemundurannya, investor jangka panjang menjual sahamnya. Tapi, investor Asia tampaknya akan masuk,” kata Maki Shinozaki, dari Morgan Stanley MUFG Securities.
Atas hal itu, investor asing sekarang memegang 74% saham Donki, bandingkan dengan tahun lalu yang mencapai 63%. Tantangan terbesar Oohara ialah meningkatnya pajak konsumsi dari 8% menjadi 10% sejak April lalu.
”Donki berpotensi menjadi perusahaan besar, tapi peran CEO baru untuk membuat keputusan dengan siapa perusahaan akan bekerja sama akan menentukan masa depan Donki. Yasuda sudah tidak ada lagi di sana,” tandas Kazahaya.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.