Krisis Qatar Akan Hantui Pasar Energi Uni Eropa

Koran SINDO, Jurnalis · Kamis 15 Juni 2017 13:58 WIB
https: img.okezone.com content 2017 06 15 320 1716868 krisis-qatar-akan-hantui-pasar-energi-uni-eropa-wPcx1z5hmm.jpg Ilustrasi: (Foto: Reuters)

KUWAIT – Krisis diplomatik Qatar tampaknya tak akan memengaruhi harga energi dalam jangka pendek. Meski demikian, perselisihan jangka panjang dapat mengganggu suplai gas Qatar sehingga harga akan naik.

Saat output minyak shale Amerika Serikat (AS) meningkat sehingga suplai global melimpah, keputusan Arab Saudi dan aliansinya awal bulan ini untuk memutus hubungan diplomatik dengan Qatar dapat mendorong kenaikan harga. “Dengan melimpahnya suplai di pasar minyak secara global, tampaknya konflik Teluk tidak akan memicu kenaikan harga minyak dalam jangka pendek atau jangka menengah,” ungkap Executive Vice President of Kuwait Financial Center (Markaz) MR Raghu kepada kantor berita AFP .

Qatar menjelaskan, negaranya akan mematuhi kesepakatan dengan kartel minyak OPEC dan produsen lain untuk meningkatkan pemangkasan produksi selama sembilan bulan hingga akhir Maret untuk menyeimbangkan kembali pasar. Bagian Qatar untuk pemangkasan output 1,8 juta barel per hari hanya 30.000 barel. Meski output minyak harian sekira 600.000 barel itu kurang dari 1% produksi minyak mentah dunia, Qatar menjadi pemain utama dalam gas alam cair (LNG). Qatar merupakan pemimpin ekspor LNG dunia, mencakup sepertiga suplai internasional terutama ke Asia dan Eropa.

Firma konsultan Oxford Economics menyatakan, ekspor minyak dan gas Qatar tampaknya tidak akan banyak terpengaruh karena rute laut utama termasuk melalui Oman dan perairan Iran masih dapat diakses. “Meski demikian, perairan Iran dapat menambah biaya,” kata Jean-Francois Seznec dari Atlantic Council’s Global Energy Center yang berbasis di Amerika Serikat (AS). Seznec menambahkan, mungkin ada dampak kecil tidak langsung dalam konflik tersebut. Tingkat jaminan akan mulai meningkat pesat dan itu harus dibayar oleh Qatar.

Sebagian besar, 80 juta ton, suplai LNG Qatar dikirim melalui kapal tanker, terutama ke Jepang, Korea Selatan (Korsel), dan India, serta ke beberapa negara Eropa. Sepertiga impor gas Inggris, misalnya, dari Qatar. Konsumen Eropa lainnya adalah Spanyol dan Polandia. Pembatasan udara, laut, dan darat oleh Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Mesir sejauh ini tak memengaruhi rute maritim untuk kapal-kapal LNG Qatar yang dapat melintas melalui Selat Hormuz. Gangguan apa pun terhadap ekspor LNG Qatar dapat membuat marah Uni Eropa (UE).

“Jika gas Qatar semakin sulit mencapai pasar global, khususnya Eropa, maka UE mungkin merasa terancam dengan prospek lebih tergantung pada impor gas Rusia, keputusan yang sangat berat secara politik bagi banyak negara anggota UE,” ungkap laporan Kuwait Financial Center.

Qatar juga memompa lebih dari 2 miliar kaki kubik gas harian melalui jaringan pipa ke UEA khususnya untuk pembangkit listrik. Sebagian kecil ekspor gas melalui jaringan pipa itu menuju Oman. Jadi jika terjadi gangguan pada suplai gas Qatar, maka akan menyakitkan bagi beberapa negara.

Krisis Teluk yang semakin serius atau konfrontasi militer, dapat mengakibatkan harga minyak naik. “Jika konflik berkembang menjadi konfrontasi militer, saya perkirakan terjadi kenaikan sekira USD150 per barel minyak dari saat ini yang berada di bawah USD50 per barel,” ujar Seznec. Harga gas juga akan naik beberapa kali. Kondisi ini terjadi seiring lompatan besar pada premi asuransi. Jika harga minyak naik tiga kali seperti prediksi Seznec, konflik akan mengganggu jalur suplai minyak dan gas dari sebagian besar negara Teluk, termasuk Arab Saudi yang menjadi pengekspor minyak mentah terbesar di dunia.

Enam negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) yakni Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan UEA, mencakup seperlima ekspor minyak mentah global atau sekira 13 juta barel per hari. Pendapatan dari ekspor energi mencakup lebih 80% pendapatan publik untuk enam anggota tersebut. Raghu menjelaskan, peningkatan krisis dapat mengakibatkan blokade rute laut dan biaya pengiriman gas global meningkat. Para importir utama LNG Qatar seperti Jepang, Korea Selatan, dan India mungkin menghadapi keterbatasan suplai sehingga harus mencari pemasok lain dalam jangka panjang.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini