nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Terlalu Lama Kirim Pesawat, Qatar Airways Batalkan Pesanan ke Airbus

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis · Selasa 11 Juli 2017 00:17 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 07 10 320 1732891 terlalu-lama-kirim-pesawat-qatar-airways-batalkan-pesanan-ke-airbus-U8WGCmCXt7.jpg Ilustrasi pesawat Airbus. (Foto: Reuters)

JAKARTA - Produsen pesawat terbang ternama, Airbus, harus menerima pukulan telak setelah Qatar Airways membatalkan pesanan untuk empat A350. Akibatnya, Airbus harus mencari cara untuk menjual pesawat senilai USD1,2 miliar tersebut agar penjualannya tidak tertinggal dari saingannya, Boeing.

Airbus pun harus mencoba menjual kembali atau mengganti pesawat 283 kursi tersebut, saat permintaan untuk pesawat berbadan besar tengah melemah. Diperkirakan, Airbus harus menghabiskan biaya USD60-USD80 juta untuk mengganti interior yang dirancang agar sesuai dengan merek mewah maskapai ini.

Pembatalan tersebut dilakukan Qatar Airways menyusul keterlambatan pengiriman dan masalah kualitas pada kabin untuk A350. Namun, beredar isu bahwa saat ini Qatar juga tengah memasuki masa sulit karena krisis yang disebabkan oleh larangan penggunaan wilayah udara Qatar dari empat negara Arab.

Chief Executive Qatar Airways Akbar Al Baker mengatakan, delay yang terjadi adalah sepenuhnya tanggung jawab pembuat pesawat tersebut. "Kami sudah meminta Airbus untuk mengirimkannya lebih cepat. Tapi mereka tetap menunda pengiriman," kata dia seperti dilansir dari CNBC.

Qatar Airways sendiri memiliki reputasi sebagai pembeli kritis, karena sangat concern dengan kualitas sebelum pengiriman.

Seorang juru bicara Airbus mengatakan, pembatalan tersebut terkait masalah rantai pasokan. Ketika ditanya apa yang akan terjadi pada jet A350-900 yang tidak terkirim, dia mengatakan empat pesawat tersebut akan dialokasikan kembali.

Namun, beberapa analis menilai bahwa krisis politik Teluk dapat memberi maskapai ini tindakan lebih lanjut untuk memperlambat pengiriman, mengingat harga minyak yang juga relatif lemah.

"Semua maskapai di kawasan Teluk menyadari bahwa mereka telah memesan terlalu banyak pesawat berbadan lebar, dan sekarang mereka tidak memiliki ruang," kata seorang pejabat industri pembiayaan pesawat terbang.

Meski demikian, Al Baker membantah bahwa konflik dan embargo di kawasan Teluk ini akan mengganggu pertumbuhan Qatar Airways atau pengiriman pesawat terbang.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini