Share

Sri Mulyani Mempertanggungjawabkan APBN 2016 di Paripurna DPR

Lidya Julita Sembiring, Okezone · Selasa 18 Juli 2017 13:16 WIB
https: img.okezone.com content 2017 07 18 20 1738854 sri-mulyani-mempertanggungjawabkan-apbn-2016-di-paripurna-dpr-eckJpu75qw.jpg Ilustrasi: (Foto: Antara)

JAKARTA - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI dan Pemerintah mengadakan Rapat Paripurna untuk mendengar tanggapan pemerintah terhadap pandangan fraksi-fraksi atas Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pertanggungjawaban atas Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2016.

Rapat dimulai pukul 11:15 WIB dan dipimpin oleh Wakil Ketua DPR, Taufik Kurniwan, dan dihadiri oleh anggota paripurna. Selain itu, pihak pemerintah yang hadir adalah Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Dalam rapat, Sri Mulyani menjelaskan tanggapan pemerintah atas pandangan fraksi-fraksi untuk pelaksanaan APBN 2016. Ia mengatakan bahwa pada 2016 perekonomian dunia masih belum menunjukkan pemulihan dan masih mengalami tekanan pelemahan. Hal ini terlihat dari masih rendahnya harga komoditas pertambangan dan perkebunan serta rendahnya volume perdagangan dunia.

"Kondisi ini sangat memengaruhi perekonomian Indonesia dan tentunya mempengaruhi pendapatan negara. Perekonomian global masih terus mengalami ketidakpastian, bersumber dari normalisasi kebijakan moneter di Amerika Serikat, risiko keamanan dan geopolitik, ketegangan di Timur Tengah dan Korea Utara, dampak Brexit, serta modernasi pertumbuhan ekonomi Tiongkok, yang mempengaruhi kinerja perdagangan internasional," ungkap Sri Mulyani di Ruang Sidang Paripurna, Jakarta, Selasa (18/7/2017).

Menurutnya, di tengah perlambatan dan ketidakpastian ekonomi global tersebut, Pemerintah Indonesia terus berupaya melaksanakan program pembangunan dan Nawacita dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat, keadilan sosial, dan meningkatkan produktivitas dan daya saing perekonomian Indonesia.

Menurutnya, adapun pencapaian pembangunan Indonesia pada 2016 yaitu:

1. Pertumbuhan ekonomi mencapai 5,02%, Iebih tinggi dibandingkan pada 2015 yang sebesar 4,8%.

2. Pendapatan per kapita mencapai sebesar Rp47,96 juta/tahun, Iebih tinggi dibandingkan 2015 yang sebesar Rp45,14 juta/tahun.

3. Gini Ratio membaik dari 2015 sebesar 0,402 menjadi sebesar 0,397.

4. Tingkat inflasi mencapai 3,02%, menurun dibandingkan tingkat inflasi pada 2015 sebesar 3,35%. Angka inflasi ini merupakan inflasi tahunan terendah sejak 2010.

5. Tingkat pengangguran mencapai 5,6%, menurun dibandingkan 2015 sebesar 6,2%.

6. Tingkat kemiskinan mencapai 10,7%, menurun dibandingkan pada 2015 sebesar 11,2%.

7. Nilai tukar rupiah atas USD pada tahun 2016 menguat pada kisaran Rp13.307 per USD di tengah kecenderungan penguatan USD karena keluarnya Inggris dari Uni Eropa dan terpilihnya Presiden Amerika Serikat.

"Penguatan rupiah tersebut terutama disebabkan meningkatnya kepercayaan investor pada Pemerintah Indonesia seiring dengan peningkatan rating Indonesia mencapai investment grade oleh Standard and Poorโ€™s, terutama karena perbaikan dalam pengelolaan APBN (kebijakan fiskal)," tukas Menkeu.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini