"Setelah itu untuk membayarkan kewajiban-kewajiban kita plus kebutuhan sehari-hari, estimasinya 55% dari penghasilan. Selebihnya masing-masing 10% disiapkan untuk dana darurat, untuk menambah pengetahuan kita, serta untuk bersenang-senang," tambah dia.
Menurutnya, hal itu dilakukan saat tidak ada kebutuhan mendesak atau penghasilan masih lebih tinggi dari kebutuhan. Karena bagi Anda yang kebutuhan bulanannya lebih tinggi dari penghasilan setiap bulannya, maka harus mencari dana tambahan untuk ditabung.
"Itu untuk kondisi normal dan aman-aman saja. Tapi kalau kondisinya kayak pembahasan di awal ya bisa beda alokasi pos pengeluarannya, akan lebih banyak di pos untuk konsumsi sehari-hari bahkan mengilangkan pos belanja dan bersenang-senang, dan bahkan alokasi nabung dan invest akan diperkecil atau jika tetap ingin menabung bisa mencari uang tambahan dari bisnis lainnya," tukas Andi.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.