nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sri Mulyani: Jika Diawasi, Indonesia Tak Akan Kecanduan Utang

Dedy Afrianto, Jurnalis · Minggu 27 Agustus 2017 13:47 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 08 27 20 1764022 sri-mulyani-jika-diawasi-indonesia-tak-akan-kecanduan-utang-1q72Awkg4V.jpg (Foto: Dedy/Okezone)

JAKARTA - Utang pemerintah pusat sampai dengan akhir bulan Juli 2017 telah mencapai Rp3.779,98 triliun. Jumlah utang ini terdiri dari Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp3.045,0 triliun (80,6%) dan pinjaman sebesar Rp734,98 triliun (19,4%).

Persoalan utang ini turut dijelaskan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani di hadapan kader perempuan partai Golkar. Menurutnya, semua negara di dunia memiliki utang untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kecuali negara tax haven.

"Mengenai masalah utang, kalau di seluruh dunia 190 negara semuanya kecuali 2 negara kecil yang merupakan tax haven yang jadi pusat perjudian, dia enggak punya utang, tapi semua negara punya utang," kata Sri Mulyani dalam acara workshop nasional perempuan legislatif, eksekutif, dan kader Partai Golkar di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (27/8/2017).

Baca Juga: Indonesia Butuh Utang untuk Kencangkan Laju Investasi!

Utang pun diyakini dapat memberikan berkah kepada Indonesia jika benar-benar diawasi oleh segala pihak. Jika utang ini diawasi, ekonomi Indonesia diyakini dapat tumbuh secara merata sehingga dalam jangka panjang Indonesia tak perlu bergantung dengan utang.

"Kalau kita punya utang dan diawasi hati-hati, bisa jadi solusi agar kita tidak menjadi kecanduan utang," ujarnya.

 Baca Juga: Simak! Utang RI Tak Bisa Dibandingkan dengan Jepang dan AS

Utang adalah instrumen yang perlu dikelola dengan sangat hati-hati. Namun, Sri Mulyani menekankan bahwa masyarakat tak perlu takut berlebihan dengan jumlah utang di Indonesia saat ini.

"Harus dikeola hati-hati, enggak boleh sembrono. Tapi kita enggak perlu takut berlebihan," kata Sri Mulyani.

Sri Mulyani menganalogikan utang dengan invetasi yang dilakukan oleh orang tuanya. Kala itu, menurut Sri Mulyani, orang tuanya telah melakukan investasi dengan menyekolahan dirinya beserta saudara yang lainnya hingga ke tingkat perguruan tinggi.

"Sama seperti Ibu saya, anak-anaknya sepuluh kalau dengan pemasukan Bapak tidak mungkin sekolah hingga ke tingkat Universitas. Tapi dengan beasiswa dan juga dititipkan ke kakak dan adeknya, sekarang jadi Sri Mulyani. Kalau misalnya dulu pinjam Rp1 juta, pendapatnya di Bank Dunia besar sekali," Sri Mulyani bercerita.

Baca Juga: Bayar Cicilan Utang Plus Bunga, Pemerintah Rogoh Rp347 Triliun

Untuk itu, utang memang perlu dilakukan sebagai investasi jangka panjang. Utang Indonesia pun saat ini masih dalam level aman jika dibandingkan dengan Produk Domestik Bruto Indonesia.

"Jadi harus dibandingkan size tadi berapa dan bebannya berapa. Kalau misalnya, anak-anak 5 tahun disuruh bawa keranjang 1 kg, kalau usia 20 tahun ya enggak ada apa-apanya, itu relatif," Sri Mulyani kembali menganalogikan.

Pemerintah pun terus menggunakan utang untuk pembangunan sektor produktif. Diharapkan, masyarakat juga berperan dalam menjaga utang negara.

"Saya katakan apakah jumlahnya sudah mengkhawatirkan apa yang perlu diwaspadai dan apakah digunakan untuk produktif atau tidak. Itu yang perlu diawasi, apakah utangnya jadi jalan atau listrik. Itu yang perlu kita awasi," tukasnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini