Image

Menperin: Indonesia Negara Favorit Tujuan Investasi

Ulfa Arieza, Jurnalis · Minggu 17 September 2017, 15:48 WIB
https img k okeinfo net content 2017 09 17 320 1777640 menperin indonesia negara favorit tujuan investasi EvBHXKzvdD JPG Foto: Biro Humas Kementerian Perindustrian

JAKARTA - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan, Indonesia masih menjadi negara tujuan investasi bagi para pelaku usaha, baik dari domestik maupun internasional, yang ingin melakukan ekspansi dan menjadikan basis produksi.

“Untuk itu, kami memfasilitasi pembangunan kawasan industri, khususnya di luar Jawa,” jelasnya sebagaimana dikutip dari keterangan tertulis, Minggu (17/9/2017).

Airlangga melanjutkan, sebanyak 27 kawasan industri yang tengah didorong percepatan pembangunannya oleh pemerintah, sekitar 23 kawasan industri ditetapkan masuk daftar proyek strategis nasional. Saat ini sudah ada delapan kawasan industri yang mulai beroperasi. Sisanya, sembilan kawasan industri masih tahap konstruksi serta 10 kawasan industri sedang dalam penyelesaian perencanaan.

“Kawasan industri yang sedang tahap konstruksi diperkirakan dalam kurun waktu dua sampai tiga tahun akan beroperasi,” kata Airlangga.

Baca Juga: Resmikan Pabrik Oleokimia Senilai Rp4,77 Triliun, Menperin Airlangga: Minat Investasi Masih Tinggi di Indonesia
Baca Juga: Datangi Pabrik Tekstil, Pengusaha China Minat Investasi di RI
Baca Juga: Korea hingga China Lirik Kaltara, Berencana Investasi Rp351,96 Triliun

Baca Juga: Resmikan Pabrik Oleokimia Senilai Rp4,77 Triliun, Menperin Airlangga: Minat Investasi Masih Tinggi di Indonesia

Sementara itu, kawasan industri yang dalam tahap perencanaan, diperkirakan satu sampai dua tahun ke depan sudah memasuki tahap konstruksi.

Kawasan industri di luar Jawa yang sudah beroperasi, meliputi Kawasan Industri Palu, Sulawesi Tengah, Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah, Kawasan Industri Konawe, Sulawesi Tenggara, Kawasan Industri Bantaeng, Sulawesi Selatan, Kawasan Industri Sei Mangkei, Sumatera Utara, dan Kawasan Industri Dumai, Riau.

“Distribusi industri tekstil skala menengah dan besar masih terkonsentrasi di Jawa. Ini merupakan salah satu tugas kami untuk pemerataan populasi industri di luar Jawa sekaligus mewujudkan visi pemerintah menciptakan Indonesia sentris dan menyejahterakan ekonomi masyarakat yang inklusif,” paparnya.

Baca Juga: Datangi Pabrik Tekstil, Pengusaha China Minat Investasi di RI

Kemenperin juga memacu penumbuhan wirausaha baru di seluruh pelosok daerah di Tanah Air melalui pengembangan industri kecil dan menengah (IKM).

“Daya saing dan perluasan pasar untuk sektor IKM dapat ditingkatkan dengan digitalisasi. Salah satunya pelaksanaan program yang kami inisiasi, yaitu e-Smart IKM yang merupakan platform digital untuk pengembangan IKM,” tutur Airlangga.

Menperin menilai, industri TPT memiliki potensi yang besar untuk tumbuh dan berkembang pada masa depan. Oleh karena itu, berdasarkan Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) pada 2015-2035, sektor ini diprioritaskan dalam pengembangannya agar mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Saat ini, industri TPT yang beroperasi di Indonesia telah terintegrasi dengan klasifikasi dalam tiga area. Pertama, sektor hulu yang didominasi menghasilkan produk fiber. Kedua, sektor antara, perusahaan-perusahaan yang proses produksinya meliputi spinning, knitting, weaving, dyeing, printing dan finishing. Ketiga, sektor hilir berupa pabrik garmen dan produk tekstil lainnya.

Baca Juga: Korea hingga China Lirik Kaltara, Berencana Investasi Rp351,96 Triliun

Kemenperin memperkirakan ekspor industri TPT akan tumbuh rata-rata 11 persen per tahun. Untuk tahun 2018, dipatok sebesar USD13,5 miliar dan tahun 2017 sebesar USD12,09 miliar. Di sisi tenaga kerja, pada 2018, diharapkan sektor ini menyerap sekitar 2,95 juta orang dan hingga akhir tahun ini sebanyak 2,73 juta orang.

Berdasarkan data United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), saat ini Indonesia menduduki peringkat ke-9 di dunia untuk Manufacturing Value Added. Posisi ini sejajar dengan Brazil dan Inggris, bahkan lebih tinggi dari Rusia, Australia, dan negara ASEAN lainnya. Oleh karenanya, Kemenperin terus memacu hilirisasi industri guna meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. (ulf)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini