nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Duh! Daya Tarik Batam Merosot, Investor pun 'Berlarian'

Koran SINDO, Jurnalis · Jum'at 20 Oktober 2017 10:55 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 10 20 320 1799112 duh-daya-tarik-batam-merosot-investor-pun-berlarian-97OuK4ZQvg.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Kawasan Batam saat ini tidak lagi memiliki daya tarik dibandingkan kawasan sejenis di wilayah ASEAN, terutama setelah berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang memberikan pembebasan atas bea masuk barang-barang produksi ke Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution selaku Ketua Dewan Kawasan Perdagangan Bebas Pelabuhan Batam (PBPB) pun mulai melakukan pembenahan sebagai upaya mengembalikan kejayaan kawasan Batam sebagaimana tujuan ditetapkannya Free Trade Zone(FTZ) Batam yang sebelumnya dikenal dengan Otorita Batam sejak 1973.

Salah satu langkah penting untuk membenahi Batam yakni dengan melantik pengurus Badan Pengusahaan (BP) Kawasan PBPB Batam di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (19/10/2017).

Hal ini dilakukan dalam upaya pemerintah pusat bersama Pemko Batam mengembalikan kejayaan kawasan Batam.

“Padahal sebelumnya daya tarik kawasan Batam terletak pada fasilitas bea masuk dan pajak pertambahan nilai sehingga dengan diperolehnya fasilitas yang sama melalui MEA malah mereka lebih mudah masuk ke wilayah kepabeanan Indonesia. Sedangkan dari Batam ada keterbatasan untuk masuk ke wilayah kepabeanan Indonesia, karena memang FTZ Batam ditujukan untuk mengekspor ke negara lain,” ujar Darmin.

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Kota Batam pada 2016 yang mencapai 5,45% melambat dibanding tahun sebelumnya. Sementara pada semester pertama 2017 pertumbuhan ekonomi Kota Batam berada di bawah 2 persen hingga akhir tahun. Beberapa perusahaan juga telah menutup usahanya di Batam.

Pada 2015 mencapai 54 perusahaan lalu pada tahun berikutnya terus bertambah. Pada 2016 mencapai 62 perusahaan, dan pada Juli 2017 sudah mencapai 53 perusahaan.

“Tentu hal ini menimbulkan kekhawatiran yang serius bagi kita. Untuk itu BP Batam melakukan berbagai upaya dalam rangka membenahi tata kelola Batam yang selama ini tidak berjalan sebagaimana mestinya,” jelas Darmin.

Darmin mengungkapkan, beberapa kebijakan malah menimbulkan protes dan kegaduhan di antara para pelaku usaha. Untuk itu komunikasi dengan pemerintah daerah, dunia usaha menjadi salah satu faktor kunci untuk mewujudkan hal tersebut. Di samping itu, dualisme kewenangan dengan pemerintah dan Pemerintah Kota Batam belum juga selesai.

“Masih terdapat beberapa kebijakan yang bersinggungan atau bahkan tumpang tindih sehingga pelayanan perizinan di Batam belum sepenuhnya terintegrasi,” ungkapnya.

Darmin memaparkan, berdasarkan evaluasi yang dilakukan oleh Dewan Kawasan Batam pada 16 Oktober 2017 lalu, telah disepakati beberapa kebijakan pokok dalam rangka percepatan revitalisasi FTZ Batam. Pertama, perlu segera mengembalikan kawasan Batam sebagai tujuan investasi yang menarik dan menjadi salah satu lokomotif pertumbuhan regional dan nasional dengan tetap mempertahakan dan invetasi yang telah ada. Kedua, perlu segera dilakukan transformasi FTZ Batam menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sebagaimana arahan Presiden.

Sementara Pengurus BP Batam yang baru dipimpin Lukita Dinarsyah Tuwo sebagai Kepala BP Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Purwiyanto sebagai anggota Deputi Bidang Keuangan, Yusmar Anggadinata sebagai anggota Deputi Bidang Perencanaan dan Pengembangan. Selanjutnya, Dwianto Eko Winaryo sebagai anggota Deputi Bidang Pengusahaan Sarana Usaha, dan Brigjen Pol Bambang Purwanto sebagai anggota Deputi Bidang Umum dan Sumber Daya Manusia.

Sementara jabatan wakil kepala disepakati untuk dikosongkan dan selanjutnya akan dihapus dalam reorganisasi BP Batam. Sedangkan untuk jabatan Deputi Bidang Pengusahaan Sarana dan Lainnya masih dalam proses pemilihan dan untuk sementara akan dirangkap BP Batam.

“Ke depan, BP Batam yang baru harus mengupayakan menciptakan ekonomi Batam yang berdaya saing dan maju. Dalam dua tahun ke depan hendaknya dapat mengembalikan Batam sebesar 7%,” papar Darmin.

Kepala BP Batam Lukita mengatakan, untuk mencapai pertumbuhan 7% dalam dua tahun akan melakukan beberapa program.

Pertama, menyelesaikan dualisme dengan Pemerintah Kota Batam dan membangun sinergi dengan semua pemangku kepentingan. Kedua, mempercepat tranformasi FTZ ke KEK Batam. Ketiga, meningkatkan pelayanan dan investasi. Keempat, meningkatkan kinerja organisasi BP Batam. Kelima, mendukung pembangunan kota Batam yang yaman, aman, asri, dan lestari.

“Kemudian kami ingin digital ekonomi bisa dikembangkan di sana. Lainnya, kami ingin mempercepat investasi supaya bisa segera masuk,” ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini