Image

Bos BEI Khawatirkan Kondisi Pasar Modal di Juni Tahun Depan, Ada Apa?

Ulfa Arieza, Jurnalis · Senin 13 November 2017, 20:24 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 11 13 278 1813406 bos-bei-khawatirkan-kondisi-pasar-modal-di-juni-tahun-depan-ada-apa-qUEyysVlcO.jpg Dirut BEI Tito Sulisto. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Tahun 2018 yang hanya dua bulan lagi membawa tantangan pada perekonomian Indonesia, kendati demikian pemerintah mengaku masih menatap tahun baru dengan optimisme. Namun ada hal yang mengganjal pikiran Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio.

Agenda di tahun depan mengusik pikiran Tito, karena kondisi tersebut belum pernah terjadi di Indonesia. Meskipun, Tito memastikan dalam sejarah pasar modal, tahun politik tidak pernah mengganggu siklus transaksi perdagangan, namun tahun 2018 berbeda.

"Tahun depan ada 171 Pilkada di bulan Juni. Total cost termasuk cost pemerintah total ada uang ditarik dari perbankan untuk pilkada sekitar Rp20 triliun," ungkap Tito di Gedung BEI, Senin (13/11/2017).

Dia mencontohkan, jika satu daerah pilkada akan menelan biaya hingga Rp100 miliar, maka akan ada sekitar Rp17 triliun hingga Rp20 triliun untuk perhelatan Pilkada di 171 wilayah itu. Tidak hanya itu, bertepatan dengan pesta rakyat yang akan digelar pada Bulan Juni 2017, sebelumnya pada bulan Maret tahun 2018 juga merupakan bulan pembayaran pajak.

Baca Juga: Mantap! IHSG Mendaki Level 6.000, Kapitalisasi Pasar BEI Tembus Rp6.518 Triliun Pekan Ini

Tito memprediksi, jumlah uang yang beredar dari jatuh tempo Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) Pajak ini sekitar Rp13 triliun yang tentunya makin menambah jumlah uang beredar di masyarakat.

Dengan adanya dua agenda besar yang diselenggarakan hampir serentak itu, Tito mengkahwatirkan adanya dana yang ditarik keluar dari perbankan. Namun, dia belum dapat membayangkan kondisi di pasar modal sendiri. "Terus terang kejadian ini kita belum ada pengalaman," kata Tito.

Oleh karena itu, Tito memandang sebaiknya Pilkada tidak dilangsungkan pada Juni. Pasalnya, ada kecenderungan masyarakat menarik uang investasi mereka dari pasar modal untuk membayar pajak. "Dahulu di bawah bantal. Sesudah tax amnesty, semua uang di perbankan. Uang ini pada ketarik dari sistem perbankan atau tidak," kata dia.

Baca Juga: Curhat Asosiasi Emiten, 3,5 Tahun bagai Anak Ayam Kehilangan Induk

Namun, Tito memastikan bahwa kondisi perekonomian Indonesia cukup stabil. Kepercayaan investor juga makin meningkat terhadap Indonesia. "Nah apakah duit juga ditarik dari pasar modal juga saya tidak ada pengalaman. Itu pertanyaan besar saya di tahun depan," jelas dia.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini