JAKARTA - Tahun ini merupakan Bursa Efek Indonesia (BEI) memasuki usia ke 25 tahun, sejak berdirinya PT Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada 13 Juli 1992 silam. Sederet torehan prestasi pun diraih oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) antara lain pencapaian nilai transaksi hingga rekor tertinggi IHSG.
Okezone merangkum kinerja IHSG sepanjang 2017 ini beserta penerbitan obligasi yang terjadi BEI. Meskipun berhasil menembus level 6.000, namun torehan tersebut tidak mudah tercapai jika tidak ditopang bermacam-macam sentiment postif.
Sentimen pertama yang membantu IHSG menguat adalah pengakuan investment grade dari lembaga pemeringkat internasional Standart & Poo (S&P). Afirmasi ini lantas membuat IHSG melonjak ke level 5.800, yang merupakan level tertingginya kala itu.
Baca Juga: Kilas Balik IPO 2017, Pertama Kalinya BEI Kedatangan 35 Emiten Baru
Namun, IHSG baru mencapai target ketika Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) akhirnya menyetujui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2018 yang dikombinasikan dengan laporan keuangan emiten yang gemilang, bahkan melebihi ekspektasi.
Emiten di sektor perbankan sektor perbankan pun didaulat menjadi motor utama pergerakan IHSG, setelah tiga emiten perbankan BUMN, PT Bank Mandiri (BMRI), PT Bank Negera Indonesia (BBNI), dan PT Bank Tabungan Negera (BBTN), merilis laporan keuangan mencatatkan laba bersih double digit.
Berikut disajikan kembali pergerakan IHSG sepanjang 2017:
Kuartal I
Pada tiga bulan awal 2017 ini, IHSG dan nilai kapitalisasi pasarnya memang berkali-kali berhasil mencetak rekor. Pencapaian tertinggi level IHSG dan nilai kapitalisasi pasar BEI terakhir terjadi pada 30 Maret, setelah IHSG melaju mulus di level 5.592,95 poin dan Rp6.078 triliun.
Rata-rata nilai transaksi harian dalam juga berubah 2,21% menjadi Rp7,94 triliun dari Rp8,12 triliun, dan rata-rata frekuensi transaksi harian menjadi 4,45% menjadi 335,81 ribu kali dari 321,5 ribu kali transaksi.
Saat itu, total emisi obligasi dan sukuk yang sudah tercatat sepanjang 2017 adalah 14 emisi dari 13 emiten senilai Rp22,39 triliun. Dengan pencatatan ini maka total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 321 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp320,88 triliun dan USD67,5 juta, diterbitkan oleh 108 emiten.
Selain itu, Surat Berharga Negara (SBN) yang tercatat di BEI berjumlah 96 seri dengan nilai nominal Rp1.891,04 triliun dan USD1.240 juta, serta 7 emisi Efek Beragun Aset (EBA) dengan nilai Rp2,71 triliun.
Pencapaian kapitalisasi pasar tertinggi sebelumnya terjadi pada 8 November 2016 yakni sebesar Rp5.918,56 triliun. Dengan pencapaian ini BEI akan terus berupaya untuk menjadi Bursa terbesar di Asia Tenggara pada 2020 mendatang.
Kuartal II
Tidak banyak yang terjadi pada kuartal II ini, lantaran investor menyambut Ramadhan dan libur panjang hari raya Idul Fitri 1438 Hijriyah. IHSG pun ditutup di posisi 5.829, setelah menguat 10,06% di sepanjang tahun ini, dibandingkan posisi penutupan pada akhir 2016 yang berada di level 5.296.
Sejalan dengan kenaikan IHSG, nilai kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) juga melampaui rekor tertingginya sepanjang masa dengan berhasil ditutup di posisi Rp6.241 triliun atau telah menguat 8,46% bila dibandingkan dengan posisi kapitalisasi pasar BEI pada akhir tahun 2016 yang berada di posisi Rp5.754 triliun.
Sebanyak 286 saham mengalami penguatan di paruh pertama 2017, dengan%tase kenaikan antara 1.314% hingga 0,26%. Lima saham dengan kenaikan terbesar di paruh pertama 2017 yakni saham PT Sanurhasta Mitra Tbk dengan penguatan sebesar 1.314,29%, PT Pelayaran Tamarin Samudra Tbk (1.150%), PT Bank Ina Perdana Tbk (624,32%), PT Wicaksana Overseas International Tbk (604%), dan PT Asuransi Jasa Tania Tbk (507,53%).
Sementara itu, sebanyak 62 saham harganya masih berada di posisi yang sama pada akhir 2016, dan sebanyak 209 saham mengalami koreksi harga dengan antara minus 0,47% hingga minus 87,68%. Perhitungan ini dilakukan setelah adanya penyesuaian harga jika perusahaan tercatat melakukan aksi korporasi di BEI.
Kuartal III
Kuartal ketiga, IHSG mulai menghangat setelah di minggu kedua terdapat enam obligasi dan satu sukuk yang dicatatkan sekaligus pada hari yang sama. Dua hari berselang, geliat penerbitan Obligasi dan Sukuk berlanjut dengan pencatatan 8 Obligasi 2 Sukuk sekaligus, yaitu pada Rabu 12 Juli.
Berlanjut pada hari Kamis 13 Juli, terdapat dua obligasi lagi diterbitkan, dan di akhir minggu terdapat 1 obligasi diterbitkan. Sehingga, pada kuartal III-2017 total emisi Obligasi dan Sukuk yang sudah tercatat mencapai 55 Emisi dari 45 Emiten senilai Rp83,31 triliun.
Dengan pencatatan ini, maka total emisi Obligasi dan Sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 335 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp346,98 triliun dan USD67,5 juta, diterbitkan oleh 111 Emiten.
Sementara untuk Surat Berharga Negara (SBN) tercatat di BEI berjumlah 94 seri dengan nilai nominal Rp1.944,90 triliun dan USD200 juta. EBA sebanyak 8 emisi senilai Rp3,43 triliun.
Akan tetapi, yang menjadi highlight pada kuartal III adalah Kenaikan IHSG yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan kenaikan bursa-bursa utama dunia seperti indeks Hang Seng Hong Kong yang meningkat 1,02%, Dow Jones Industrial Average sebesar 1%, Sensex 30 India 0,91%, Straight Times Singapura 0,50%, SET Thailand 0,48%, Shanghai Tiongkok 0,47%, dan Bursa Malaysia 0,45%.
Beberapa indeks utama dunia justru mengalami pelemahan di sepanjang pekan ini seperti indeks Australia -0,28%, Nikkei 225 Jepang -0,70%, Inggris Raya -0,82%, dan indeks KOSPI Korea Selatan -2%.
Selain itu, pada 25 Agustus BEI kembali menorehkan rekor pencapaian positif di sepanjang 25 tahun perjalanannya sejak pertama kali swastanisasi dilakukan. Pada periode 21-25 Agustus 2017, IHSG dan nilai kapitalisasi pasar dua kali menembus rekor tertingginya.
Seiring dengan penguatan IHSG dan kapitalisasi pasar, rata-rata frekuensi transaksi harian, volume transaksi harian dan nilai transaksi harian juga menguat. Rata-rata frekuensi transaksi harian sepekan terakhir mampu mencatatkan kenaikan 12,22% menjadi 326,11 ribu kali transaksi dari 290,59 ribu kali transaksi.
Rata-rata volume transaksi harian meningkat 28,25% menjadi 9,76 miliar unit saham dari 7,61 miliar unit saham minggu lalu. Rata-rata nilai transaksi harian, yang pekan sebelumnya Rp5,84 triliun, pada pekan ini meningkat 10,10% menjadi Rp6,43 triliun.
Investor asing pun mencatatkan jual bersih di sepanjang pekan ini dengan nilai Rp1,68 triliun. Sepanjang tahun ini, investor asing masih membukukan beli bersih Rp1,96 triliun.
Kuartal IV
Akhirnya, pada 25 Oktober 2017 pasar saham Indonesia menembus rekor 6.000 untuk pertama kalinya. IHSG mampu ditutup menembus 6.025. Stabilnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat sebesar Rp13.570 per USD, serta terjaganya laju inflasi domestik di bawah 4% per September 2017 berkontribusi terhadap meningkatnya kepercayaan investor domestik terhadap perekonomian, khususnya Pasar Modal Indonesia.
Selain itu, positifnya kinerja Perusahaan Tercatat di kuartal ketiga turut menjadi salah satu faktor penguatan IHSG hingga menembus 6.000 poin. Dengan demikian, jika dibandingkan dengan Pasar Modal negara lain, IHSG telah mencatatkan kinerja terbaik dalam 10 tahun terakhir.
Sayangnya, investor asing masih terus mencatatkan jual bersih di sepanjang tahun ini yang secara year-to-date, jumlahnya sudah mencapai Rp17,88 triliun. Aksi jual bersih yang dilakukan oleh invesor asing tersebut, diimbangi dengan aksi beli yang dilakukan oleh investor domestik.
Sepanjang tahun ini, investor domestik telah menguasai 64% atau Rp899 triliun nilai transaksi di BEI, sedangkan investor asing hanya 36% atau Rp514 triliun. Nilai kapitalisasi pasar BEI juga menembus rekor tertingginya sepanjang masa di level Rp6.666 triliun. Nilai transaksi hari ini tercatat sebesar Rp8,69 triliun, volume transaksi hari ini sebesar 9,15 miliar unit saham dan frekuensi perdagangan hari ini 349,79 ribu kali transaksi.
Adapun total emisi Obligasi dan Sukuk yang sudah tercatat sepanjang tahun 2017 adalah 80 Emisi dari 54 Emiten senilai Rp123,56 triliun. Dengan pencatatan ini maka total emisi Obligasi dan Sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 345 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp371,59 triliun dan USD47,5 juta, diterbitkan oleh 111 Emiten.
Sebanyak 93 seri Surat Berharga Negara (SBN) tercatat di BEI dengan nilai nominal Rp2.094,47 triliun dan USD200 juta, serta 10 emisi Efek Beragun Aset (EBA) senilai Rp8,54 triliun.
IHSG kembali melanjutkan penguatannya di sepanjang periode 20 hingga 24 November 2017 sebesar 0,25% ke level 6.067,14 poin dari level 6.051,73 poin pada akhir pekan sebelumnya. Kenaikan IHSG juga diikuti dengan peningkatan kapitalisasi pasar sebesar 0,33% menjadi Rp6.716,37 triliun pada pekan ini dari Rp6.693,94 triliun pada akhir pekan lalu.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.