nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pergeseran Energi Fosil ke Terbarukan Jadi Fokus Dunia

Lidya Julita Sembiring, Jurnalis · Selasa 12 Desember 2017 16:13 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 12 12 320 1829181 pergeseran-energi-fosil-ke-terbarukan-jadi-fokus-dunia-04xIJg6kfG.jpg Foto: Lidya/Okezone

JAKARTA - Peran penting sektor energi terbarukan (EBT) terlihat dari terus meningkatnya investasi dan permintaan di negara Asia. Di samping itu secara global, pertumbuhan sektor EBT saat ini, telah melewati pertumbuhan sektor batubara.

Partner and Managing Director Boston Consulting Group (BCG) Singapore Ashees Sastry mengatakan, sejauh ini minyak dan gas (migas) masih menjadi sumber energi utama, namun ke depan peran sumber energi terbarukan akan semakin signifikan.

Baca Juga: Investasi Rp4,49 Triliun, 3 Perusahaan Prancis Bidik Energi Terbarukan Indonesia

"Bahan bakar fosil, khususnya minyak memang masih akan mendominasi bauran energi, namun inisiatif kebijakan baru telah membantu kawasan ini menuju era energi baru," ungkapnya di Hotel Raffles, Jakarta, Selasa (12/12/2017).

Sementara itu, Analis Energi Senior World Energy Outlook(WEO), International Energy Agency, Toshiyuki Shirai, mengatakan saat ini Asia Tenggara tengah dihadapkan oleh permintaan energi terus meningkat seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi global.

Baca Juga: Bangun Pembangkit EBT, Menteri ESDM: Lebih Kompetitif Dibandingkan Energi Fosil

Namun, seiring berjalannya waktu, beberapa negara di kawasan China, India dan Asia Tenggara mulai menyadari pentingnya pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) dalam mengurangi dampak pemanasan global.  

"China saat ini menyumbang seperempat investasi di sektor energi terbarukan. Keseluruhan antara China, India dan Asia Tenggara menyumbang 40% investasi di sektor energi terbarukan," ujar Toshiyuki Shirai.

Baca Juga: Hingga November, IPP Energi Terbarukan Capai 1.186 Mw

Executive Director Asia Pacific, Upstream Research and Consulting, IHS Markit, Nick Sharma menilai imbas dari kebijakan energi bersih di China dan Amerika Serikat diproyeksi mampu mengurangi permintaan bahan bakar sekitar 12% di 2040 secara global.

Menurutnya, kendaraan listrik diprediksi akan menjadi pilihan logis yang akan dipilih oleh masyarakat di masa depan. Saat ini terdapat lebih dari 99% atau 1,28 miliar unit mobil di dunia berbahan bakar minyak, sementara 0,2% menggunakan tenaga listrik.

"Di 2040 nanti, kami memproyeksikan sepertiga dari penjualan mobil baru di pasar otomotif dan energi terbesar di dunia seperti China, Eropa, India, dan Amerika Serikat sekitar 16%. Artinya akan semakin banyak mobil di jalan beralih tenaga ke listrik," tukasnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini