nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Stok Beras Langka, Pengamat: Ada Kecurigaan Manipulasi Data

Anisa Anindita, Jurnalis · Minggu 14 Januari 2018 12:46 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 01 14 320 1844691 stok-beras-langka-pengamat-ada-kecurigaan-manipulasi-data-IP8cZuaj4x.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTA -  Sejak bulan lalu, pemerintah melalui Kemeneterian Pertanian memastikan bahwa stok beras aman meski sejumlah daerah di Indonesia terjadi hujan ekstrem hingga banjir. Kendati demikian, Kementerian Pertanian mengaku sudah menyiapkan langkah strategisnya guna menyikapi fenomena alam seperti saat ini.

Berdasarkan data produksi dan konsumsi beras Kementerian Pertanian untuk Januari-April 2018, di Januari produksi beras mencapai 4,5 juta ton gabah kering giling (GKG) dengan ketersedian beras sebanyak 2,8 juta ton dan konsumsi beras 2,5 juta ton. Artinya ada surplus beras sebanyak 329,320 ton.

Pada Febuari 2018, produksi meningkat menjadi 8,6 juta ton GKG dengan ketersediaan beras sebanyak 5,4 juta dan konsumsi beras 2,5 juta ton. Dengan surplus beras 2,9 juta ton. Pada Maret produksi berat kembali meningkat 11,9 juta ton GKG , dengan ketersedian beras sebanyak 7,47 juta ton dan konsumsi 2,5 juta ton. Artinya surplus 4,971 ton.

Baca Juga: Kemendag Impor Beras Thailand Akibat Harga yang Terus Naik

Kendati demikian, pasokan beras ternyata mengalami kekurangan dipasaran. Harga beras kelas medium terus melambung melewati batas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp9.450 per kilogram (kg) hingga kini berasa dikisaran Rp12.000 per kg.

Di sisi lain, Peneliti senior Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri menilai ada kecurigaan terjadinya manipulasi data terhadap hasil panen gabah.

"Ada kecurigaan yang besar bahwa data saat ini dimanipulasi besar-besaran. Jadi dengan data yang baik, kita bisa tahu apakah pasokan tersedia dengan cukup atau tidak,” ungkap Yose kepada Okezone, Minggu (14/1/2018).

Baca Juga: Harga Beras Terus Naik, Pedagang Minta Pertimbangkan Buka Keran Impor

Yose mengatakan bahwa sebaiknya pemerintah menghentikan kebijakan mngatur HET, serta menjaga pasokan tetap aman dengan data yang akurat.

“Kebijakan yang lebih tepat saya rasa adalah mencabut HET, dan juga menjaga pasokan. Ini tentu saja harus dilatarbelakangi dengan data perberasan yang baik,” jelasnya.

Selain itu, dia mengharapkan agar pemerintah peka terhadap apa yang terjadi di pasar, bila memang diperlukan impor maka harusnya segera dilakukan. Seperti diketahui pemerintah telah menahan impor selama dua tahun terakhir. “Kalau kurang memang kita perlu impor. Tidak perlu alergi terhadap impor,” jelas Yose.

Baca Juga: Sandiaga Ancam Pedagang Pasar yang Masih Berani Timbun Beras

Terlebih kata Yose, jika pemerintah tidak menyegerakan impor beras, khawatir masyarakat akan kekurangan pasokan beras di tahun politik ini. “Apalagi pada tahun politik seperti ini, kekurangan pasokan resikonya lebih besar daripada hanya mempertahankan keputusan untuk tidak impor,” tegas Yose.

Pada akhirnya, kini pemerintah memutuskan untuk membuka keran impor sebanyak 500.000 ton beras dari Vietnam dan Thailand yang dipastikan sampai pada akhir Januari. Keputusan melalui Kementerian Perdagangan ini bermaksud untuk menekan harga beras yang tinggi.

Yose menilai, hal tersebut merupakan keputusan yang tepat, namun cukup terlambat.

"Langkah impor saat ini sudah cukup tepat, tetapi mungkin telat untuk dilaksanakan. Untuk jangka panjang tentunya produktivitas pertanian kita harus ditingkatkan. Dan itu adalah kewajiban Menteri Pertanian. Urusannya adalah meningkatkan kinerja pertanian, bukan mengatur impor dan harga beras. Itu serahkan saja ke Mendag," tutupnya. (yau)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini