nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jika Harga BBM Tak Naik, Begini Taktik Pertamina Selamatkan Keuangan

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Senin 29 Januari 2018 18:51 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 01 29 320 1851838 jika-harga-bbm-tak-naik-begini-taktik-pertamina-selamatkan-keuangan-eDKbbamItK.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Pemerintah telah memutuskan untuk tidak menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium dan Solar dan tarif listrik dalam periode 1 Januari 2018 sampai 31 Maret 2018. Hal ini untuk menjaga daya beli masyarakat.

Hal ini pun berimbas pada pendapatan Pertamina di mana perseroan harus menekan biaya operasional (operating expenditure/opex) untuk menanggung selisih harga BBM dengan harga minyak dunia yang terus merangkak naik.

 Baca juga: Laba Bersih Pertamina Turun 23,5% di 2017

Direktur Keuangan Pertamina, Arif Budiman mengatakan, formulasi harga BBM usai bulan Maret berada di wilayah pemerintah. Namun bila harga BBM kembali tak dinaikkan oleh pemerintah, maka perusahaan berplat merah ini harus melakukan efisiensi salah satunya dengan kembali menekan opex.

"Kalau pun enggak dinaikin, ya kita tekan lagi di Opex, ya kita lihat lagi nanti di mana. Kalau sejauh ini kan pemerintah masih mereview formulasi harga. Tapi kalau pun enggak naik ya kita cari jalannya," ujar Arif di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (29/1/2018).

 Baca juga: Pertamina Bangun Proyek Listrik Terintegrasi Rp26,3 Triliun di Bangladesh

Adapun karena kenaikan kenaikan harga Indonesia Crude Price (IPC) Pertamina telah menekan opex perseroan hingga 26% serta laba perseroan turun 23,5% dari tahun 2016 yang mencapai USD3,15 miliar.

Arif mengatakan penekanan opex untuk mencegah defisit di usaha hilir Pertamina. Dia menyebutkan saat ini produksi minyak Pertamina 343 ribu barel per hari sementara konsumsi setara 1,5 juta hingga 1,6 juta barel per hari. Hal ini membuat perusahaan berplat merah ini mengimpor minyak untuk mencukupi kebutuhan BBM dalam negeri.

 Baca juga: Pertamina Siapkan Capex USD5,59 Miliar di 2018

"Jadi makanya kan enggak seimbang, kita kan memang banyak di hilir daripada di hulu. Hampir 4 kalinya secara balance-nya. Jadi kalau misalkan harga naik (minyak dunia), secara keseluruhan, ya pasti overall-nya pasti ketekan," ujar dia.

Sebaliknya, lanjutnya, bila harga minyak dunia mengalami penurunan maka akan berdampak pada perbaikan pendapatan perseroan.

"Makanya waktu harga rendah itu kan labanya agak naik ya, karena kita memang sebetulnya secara korporasi memang lebih hilir dari pada hulu," jelas dia.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini