Share

Gubernur BI Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2017 Senggol 5,1%

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 02 Februari 2018 18:44 WIB
https: img.okezone.com content 2018 02 02 20 1853938 gubernur-bi-prediksi-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-2017-senggol-5-1-YhAsh9w7uH.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dalam tren yang baik. Sehingga, BI yakin pertumbuhan ekonomi pada tahun 2017 bisa mencapai target yakni sebesar 5,1%.

Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, optimisme tersebut bukanya tanpa alasan. Karena, pada awal tahun ini perekonomian Indonesia relatif stabil tanpa hambatan.

 Baca juga: Ekonomi dan Politik Akan Jalan Sendiri-Sendiri

Apalagi, tren pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun juga terus mengalami peningkatan. Selama tiga tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh dari 4,88% pada 2015, lalu 4,9% pada 2016 dan 5% pada tahun 2017.

"Kalau bicara pertumbuhan ekonomi masih melihat bahwa tren selama 3 tahun adalah tren pemulihan kita karena kita dua tahun yang lalu pertumbuhannnya ada di kisaran 4,88% atau 4,9% kemudian setelah itu ada di kisaran 5% nah di tahun 2017 kita perkirakan ada di kisaran 5,1% . jadi 4,9% ke 5% ke 5,1% itu adalah perusahaan," ujarnya saat ditemui di Komplek Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (2/1/2018).

 Baca juga: Presiden Jokowi ke Afghanistan, Menteri Ekonomi RI Diminta Dorong Kerjasama Bisnis

Selain itu lanjut Agus, optimisme dari pertumbuhan ekonomi juga didorong oleh inflasi dan neraca defisit transaksi berjalan (current account defisit/CAD) bisa terjaga. Pada tahun ini BI memprediksi CA berada di angka 1,8% dari Produk Domestik Bruto (PBD).

Pada tahun 2016, secara keseluruhan nilai CAD mencapai USD12 miliar. Sedangkan pada tahun 2017, berada di kisaran USD11,8 miliar.

Lalu pada untuk transaksi berjalan yang pernah pada tahun 2013 dan 2014 mengalami defisit sebesar USD29 miliar dan USD27 miliar. Sedangkan pada tahun ini transaksi berjalan mencapai USD17 miliar.

 Baca juga: Berkah Harga Komoditas terhadap Ekonomi Indonesia

"Tetapi ini semua didorong oleh ekonomi yang lebih resilient terjadi transaksi berjalan sehat, neraca pembayaran overall balance-nya sehat kemudian dana yang masuk ke Indonesia juga menujukkan kondisi yang konstan. Jadi transaksi berjalan kita lihat ada di bawah 2% dari GDP dan itu kira kira ada di kisaran 1,8%," ucapnya.

Sementara itu, pada awal tahun ini mengalami apresiasi sebesar 1%. Padahal pada tahun 2017 lalu, nilai tukar Rupiah terus mengalami pelemahan sekitar 0,6%.

"Kita lihat juga nilai tukar kalau sepanjang 2017 itu ada depresiasi Rupiah sebesar kira-kira 0,6% tapi kalau sekarang year to date itu kira-kira terjadi apresiasi di atas 1% dan kita melihat ini adalah cerminan dari ekonomi yang cukup," jelasnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini