nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pasokan Beras Menyusut, Lahan Pertanian pun Berubah Jadi Hunian

Kurniasih Miftakhul Jannah, Jurnalis · Rabu 07 Februari 2018 10:37 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 02 07 320 1855902 pasokan-beras-menyusut-lahan-pertanian-pun-berubah-jadi-hunian-afLIPbRQPX.jpg Ilustrasi:

JAKARTA – Pasokan beras di pasar semakin berkurang, dan diprediksi akan berlangsung ke depan. Sekalipun panen raya berlangsung, stok yang didapat tidak mencukupi.

Salah satu indikatornya saat ini bisa dilihat dari pasokan beras di Cipinang, Jakarta. Posisi stok Minggu 4 Februari 2018, berada pada angka 22.707 ton per hari. Padahal, dalam kondisi normal rata-rata stok beras berkisar pada 25.000 ton-30.000 ton per hari.

“Indikator kurang itu karena pasokan di Cipinang kan. Untuk menambah itu dilakukan dengan operasi pasar. Tapi kalau hanya mengandalkan operasi pasar saja tetap tak berdampak. Satu sisi, stok yang ada di Bulog kan jauh dari ikhtiar, itu yang harus dibenahi semuanya,” kata Ketua DPD Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras (Perpadi) DKI Jakarta Nellys Sukidi dalam keterangan tertulisnya, Rabu (7/2/2018).

 Baca juga: Harga Beras di Pasar Induk Cipinang Turun Rp625/Kg

Dia menegaskan, kurangnya stok beras di pasaran ini menurutnya telah terjadi sejak November 2017 silam. Penyebabnya, lahan yang digunakan petani untuk menanam padi semakin berkurang.

Ironisnya lagi, pemerintah terkesan lupa menyeimbangkan ketersediaan lahan dengan kebutuhan penduduk yang terus bertambah. Alhasil, pemerintah mau tak mau harus melakukan impor untuk menutup kekurangan tersebut. Persoalannya lagi, beras impor harus menyelaraskan harga di pasaran.

“Dulu lahan pertanian yang ada di Cikarang itu banyak sekali. Sekarang sudah dikonversi jadi lahan nonpertanian, siapa yang bertanggungjawab atas hasil itu? Kasihan petani,” ungkapnya.

 Baca juga: Menko Darmin: Kita Tidak Ingin Harga Beras Jadi Liar

Menurut dia, yang penting impor beras yang dilakukan tak merugikan petani. “Kalau nggak ada barang di Bulog, siapa yang jamin panen yang akan datang itu berlimpah. Kan belum tahu masih berbentuk tanaman, masih di lahan. Itu barang masih di sawah jangan dipandang sebagai buffer stock,” tukasnya.

Di penghujung tahun 2017 kemarin, Kementerian Perdagangan bersama Bulog rajin melakukan operasi pasar untuk menstabilkan harga, khususnya beras. Langkah tersebut diyakini bisa menahan harga yang melambung di akhir tahun akibat permintaan yang meningkat.

 Baca juga: Selain Cipinang, KPPU Usul Tambah Pasar Induk Beras di 6 Wilayah

Namun, memasuki bulan kedua 2018, harga beras masih ternyata masih tetap tinggi. Permintaan yang tinggi tidak lagi menjadi faktor utama, lantaran pada faktanya suplai memang menipis. Kendati begitu, Kementerian Pertanian masih bersikukuh stok beras masih cukup, sementara panen sebentar lagi terjadi.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini