nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Presiden Jokowi: Jangan Mau Pameran Dekat Toilet Lagi, Malu Kita

Rahman Asmardika, Jurnalis · Senin 12 Februari 2018 14:58 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 02 12 320 1858338 presiden-jokowi-jangan-mau-pameran-dekat-toilet-lagi-malu-kita-h59RbUryww.jpg Presiden Joko Widodo. (Foto: ANT)

JAKARTA - Presiden Jokowi menyatakan kekesalannya, lantaran setiap pameran perdagangan jarang mendapat tempat strategis. Alih-alih "mennjual" produk Indonesia di pameran perdagangan, seringkali produk asal Indonesia hanya menjadi "penggembira" di pameran perdagangan negara lain.

Menurut Jokowi, kementerian terkait harus mencari pasar-pasar non-tradisional, guna mendorong pertumbuhan ekspor di Indonesia. Dia merujuk kepada negara-negara berpenduduk besar namun memiliki ekonomi cukup tinggi seperti Bangladesh dan Pakistan.

Namun, Jokowi berpesan agar stan pameran Indonesia menjadi sorotan utama para investor yang hadir. Pasalnya, dalam beberapa pameran terakhir stand yang didapat Indonesia hanya stand "buangan" dengan lokasi yang tidak strategis.

"Kalau pameran jangan yang di pojok dekat toilet, kalau mau pameran di depan gerbang, gede sakalian, atau enggak usah pameran," tegas Jokowi di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Senin (12/2/2018).

Baca Juga: Jokowi Sindir Kinerja Ekspor Masih Kalah, Begini Penjelasan Mendag

"Saya dapat laporan dari dubes Uni Emirate Arab, kita hanya ikut dua stand, malu kita. Kita itu negara besar, harusnya ikut 50 stand atau 60 stand. Pameran hanya dua stand, dekat toilet lagi, saya minta Stop, itu hanya cari proyek namanya," tambah dia.

Jokowi menambahkan, jika memang negara tersebut dan strategis untuk mengembangkan ekspor, maka jika ada pameran perdagangan turut berpartisipasi secara besar-besaran. Tidak tanggung-tanggung, dia meminta ada 50 stand hadir dalam pameran tersebut. "Karena kunci ekonomi negara kita hanya ada dua, satu peningkatan investasi kedua peningkatan ekspor," katanya.

Dia menilai, salah satu negara yang memiliki potensi sebagai target ekpor adalah negera di Afrika, yang memiliki market besar dan pertumbuhan ekonomi yang masih tinggi. Dia pun meminta kementerian dan lembaga terkait, segera mengajukan proposal jika memang ada pameran yang menggiurkan.

Baca Juga: Indonesia-Afrika Buka Peluang Kerjasama Ekonomi

"Kalau ada pameran segera booking di depan gerbang, yang besar. Produknya juga disesuaikan, misalnya produknya apa yang di Bangladesh, produknya jangan yang tinggi, yang menengah saja, sesuaikan dengan pasar," tukas dia.

Sekadar informasi, pameran perdagangan memang menjadi salah satu pintu masuk produk Indonesia ke negara lain. Seperti batu bara asal Indonesia yang siap mendominasi pasar di China yang sedang membutuhkan pasokan energi besar untuk mengimbangi pesatnya pertumbuhan sektor industri.

Saat itu, Indonesia lewat PT Borneo Pasifik Global (BPG)mendapat kepercayaan mewakili Indonesia untuk pertama kali di coal expo terbesar (CCME) di China tersebut. CCME adalah pameran pertambangan batu bara terbesar di China yang diadakan setiap dua tahun sekali. Tahun ini, CCME mengambil tema, "Intelligent Manufacturing, Leading the Future" dan diikuti hampir 400 perusahaan dari 18 negara, termasuk Amerika Serikat, Rusia, dan Jerman.

Pertemuan tersebut menjadi ajang untuk meningkatkan hubungan baik antara China dan Indonesia, khususnya dalam bidang perdagangan. Calon pembeli dan investor dari China mendapatkan penjelasan terkait fluktuasi harga batu bara hingga jaminan transparansi dalam proses penambangan dan pengiriman komoditas tersebut.

Selain di China, Indonesia juga mendapat apresiasi dari Pemerintah Senegal dengan diundang sebagai negara tamu kehormatan pada Pameran Dagang Internasional Kaolack (Foire Internationale de Kaolack/FIKA) ke-3 di Provinsi Kaolack, Senegal.

Pameran Dagang Internasional Kaolack (FIKA) itu digelar pada 1-14 Februari 2018. Menurut pihak KBRI Dakar, citra positif Indonesia di mata warga Senegal kini kian meningkat, di mana partisipasi Indonesia pada FIKA seringkali diumumkan di radio-radio dan televisi Senegal.

Jumlah eksibitor yang ikut pameran FIKA pada tahun ini melonjak hingga mencapai 700 eksibitor dibandingkan tahun sebelumnya.

Perdana Menteri Senegal Mahammed Boun Abdallah Dionne yang membuka secara resmi pelaksanaan FIKA, mengapresiasi kesediaan Indonesia untuk bertindak sebagai negara tamu kehormatan.

Pemerintah Senegal mendukung penuh pelaksanaan FIKA di Provinsi Kaolack karena provinsi tersebut berperan sebagai pusat kegiatan yang memiliki potensi sumber daya alam yang besar, serta merupakan salah satu wilayah termaju di Senegal.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini