Merambah ke Online, Lego Tak Tinggalkan Pelanggan Tradisional

Koran SINDO, Jurnalis · Selasa 13 Februari 2018 10:27 WIB
https: img.okezone.com content 2018 02 13 320 1858746 merambah-ke-online-lego-tak-tinggalkan-pelanggan-tradisional-EvwLb5Vo1k.jpg Foto: Koran SINDO

LEGO identik dengan permainan bongkar pasang kepingan plastik. Seiring perkembangan teknologi, LEGO juga merambah video games. LEGO bekerja sama dengan raksasa internet Tencent untuk menciptakan video games dengan target pasar di China.

Hadirnya LEGO dikonten dan platform digital menunjukkan perusahaan asal Denmark itu telah berubah dan merambah pasar baru. Hal itu dilakukan LEGO karena melihat perkembangan pasar di China yang selalu tumbuh. “Kerja sama antara LEGO dengan Tencent dalam menemukan cara yang lebih kreatif untuk menjangkau anak-anak dan menciptakan konten lebih menarik,” kata Kepala LEGO di China Jacob Kragh dilansir Reuters . Langkah yang dilaksanakan pada awal tahun ini merupakan bentuk strategi LEGO merebut pasar China.

Baca Juga: Pertama Kali dalam Sejarah, Lego Menang Gugatan di Pengadilan China

Pasalnya, kinerja keuangan pada semester awal 2017 menunjukkan penurunan dan cenderung mengecewakan. Penurunan penjualan itu pertama kali terjadi dalam satu dekade terakhir, yakni turun sebesar 5% menjadi USD2,38 miliar. LEGO mengalami penurunan pendapatan karena pasar-pasar yang sudah matang, seperti di Amerika Serikat dan Eropa mengalami kelesuan. Sedangkan pasar yang tumbuh pesat adalah China mencapai dua digit. Nanti LEGO akan fokus pada sistem penjualan online . Sementara itu, Kepala Eksekutif LEGO Group Jorgen Vig Knudstorp selalu berpikir untuk membuat LEGO yang unik. Dia senantiasa mengunjungi ritel dan berkoordinasi dengan pemasaran.

Dia juga pernah belajar di Massachusetts Institute Technologi (MIT) hanya untuk mengetahui pola belajar anak. Tak hanya itu, dia menghabiskan tiga hari di konferensi LEGO untuk orang dewasa di Washington DC. “Mereka semua menginspirasi untuk kembali menghasilkan produk yang kreatif,” ungkap Knudstorp.

Baca Juga: Waduh! Lego 'Ambruk' dan PHK 1.400 Karyawan

“Saya pun harus menghabiskan waktu bersama anak-anak untuk bermain LEGO,” ujarnya. Melansir Financial Times, Knudstorp menjelaskan tentang pentingnya LEGO yang sudah menjadi brand populer. “LEGO pun menjadi target pembajakan,” katanya. Hal itu semua dilakukan demi brand . Dia menceritakan, banyak orang mengirim surat kepadanya tentang pentingnya LEGO dalam kehidupan mereka.

“Suara dari konsumen membuat kami tetap bertahan. Brand yang kami tekankan adalah memberikan pengalaman pembangunan kreatif kepada semua orang,” tuturnya. Dia pun selalu membalas surat yang dikirimkan melalui pos ataupun surel (surat elektronik/email) kepada pelanggannya. Seiring perkembangan media sosial, Knudstorp pun mendengarkan ke luh an dan cerita tentang LEGO dari media sosial, terutama Twitter. “Kami menekankan pentingnya mendengar. Twitter dan media sosial memberikan kita tanggung jawab untuk mendengar isu dan hal yang di sampaikan pelanggan,” paparnya.

Tak hanya pelanggan, Knudstorp juga perhatian para karyawannya. Dia terbilang pemimpin yang punya hati, termasuk manakala harus melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) bagi karyawannya. Dia mencoba mengaitkan dirinya dengan karyawan yang akan dirumahkan. Dia menawarkan pelatihan dan hadir di depan karyawannya langsung. “Saya menghabiskan waktu 40 jam untuk bertemu dengan karyawan yang akan diputus kerja,” ujar Knudstorp.

“Mereka bertanya: bagaimana masa depan saya? Tentu saya tidak bisa menjamin, tapi saya akan peduli. Menjadi transparan dan jujur sangat penting untuk membangun moral,” ujarnya.

Selalu Mengucapkan Terima Kasih

Meskipun masuk jajaran eksekutif, Knudstorp juga selalu turun tangan dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan. Dia menyempatkan diri menjawab surel dari pelanggan, menceritakan dongeng kepada pasien anak-anak yang rela menabung untuk membeli LEGO. Dia ingin menekankan pelayanan kepada pelanggan bukan hanya urusan produk perusahaan, tetapi memberikan hati kepada mereka. Dalam menjalankan kepemimpinannya, Knudstorp juga tergolong rendah hati.

Dia selalu mengucapkan terima kasih kepada semua orang, baik karyawan maupun pelanggan karena telah melaksanakan perintah dan arahannya. “Kamu jangan menjalankan perusahaan berdasarkan apa yang diceritakan karyawan ke padamu. Kamu harus mengelola perusahaan berdasarkan suatu ke inginan,” katanya. Tidak mengenal kontrol terhadap anak buah dan operasional perusahaan merupakan prinsip yang dijalani Knudstorp.

“Saya menekankan konteks lokasi di bandingkan pengontrolan,” tuturnya. Dia mengaku tidak suka dengan banyak perusahaan yang mengutamakan kontrol terhadap kinerja anak buahnya. “Akibatnya, kamu menghukum berdasarkan apa yang sebenarnya tidak kamu inginkan,” katanya.

(Andika Hendra)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini