Image

Aset Asuransi Syariah Tumbuh 21,9%

Koran SINDO, Jurnalis · Rabu 14 Februari 2018 14:54 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 02 14 320 1859488 aset-asuransi-syariah-tumbuh-21-9-DCRc4Sz8yA.jpg Ilustrasi: (Foto: Reuters)

JAKARTA - Sepanjang tahun 2017, industri asuransi syariah kembali mencatat pertumbuhan positif. Aset tumbuh sebesar 21,90% menjadi Rp40,52 triliun dari Rp33,24 triliun pada tahun 2016.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) Erwin Noekman mengatakan, aset asuransi syariah berada di posisi lebih baik jika dibandingkan dengan aset industri asuransi konvensional, yaitu sebesar 5,79%. Kontribusi premi juga mengalami pertumbuhan sebesar 16,29% menjadi Rp13,9 triliun dari Rp12 triliun.

Sementara nilai investasi ikut meningkat sebesar 21,83% dari Rp28,81 triliun menjadi Rp35,1 triliun. Kemudian pemberian manfaat (klaim) naik hanya se - besar 13,85% menjadi Rp4,95 triliun dari Rp4,33 triliun.

Baca Juga: Program Asuransi Budidaya Udang Indonesia yang Pertama di Dunia

”Pangsa pasar (kontribusi) asuransi syariah berada di angka 5,04% bila dibandingkan dengan premi asuransi secara keseluruhan,” ujar Erwin di Jakarta. Dia mengatakan, masih terdapat beberapa potensi pasar untuk membuka peluang bagi pelaku usaha antara lain pangsa pasar muslim yang besar. Dengan jumlah muslim 230 juta atau sekitar 87% dari total seluruh penduduk Indonesia, maka hal ini bisa menjadi market based yang potensial.

Di sisi lain, AASI menyatakan, roadmap pemisahan (spin off) unit usaha syariah ditargetkan bisa terlaksana pada tahun 2020 mendatang. Menurut Erwin, ketika pertama kali asuransi syariah hadir di Tanah Air pada 24 tahun lalu, para pelaku saat itu masih mengandalkan best practice dari negara tetangga. Namun, seiring waktu, regulator menunjukkan keberpihakan sangat baik dengan terbitnya aturan-aturan yang secara khusus mengatur asuransi syariah.

Baca Juga: Berpergian ke Luar Negeri Pakai Asuransi, Ini Lho Plus Minusnya

”Salah satunya adalah aturan tentang pemisahan unit syariah dengan batas waktu paling lambat pada tahun 2024. Karena itu, paling lambat tahun 2020, setiap unit syariah wajib sudah menyampaikan roadmap tentang pemisahan unit syariah tersebut,” kata Erwin. Dia menuturkan, saat ini jumlah pelaku asuransi syariah meningkat signifikan. Pada akhir tahun 2004 tercatat baru 18 perusahaan (full-fledge dan unit syariah) yang mendapatkan izin usaha dari OJK. Sementara hingga akhir 2017 lalu, tercatat 63 perusahaan (full-fledge dan unit syariah).

Ke depan, industri asuransi syariah memerlukan beberapa strategi khusus untuk mengatasi berbagai tantangan. Persiapan dan kesediaan sumber daya manusia (SDM) yang andal, inovasi produk, serta penggunaan teknologi adalah hal wajib menjadi perhatian bagi seluruh pelaku industri. ”Pengembangan financial technology (fintech ) syariah juga dapat digunakan dan dikembangkan sepanjang tidak bertentangan dengan kaidah syariah,” ujarnya.

(Kunthi Fahmar Sandy)

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini