Image

Lahan Terbatas, Indonesia Sulit Lepas dari Impor Bawang Putih

Kurniasih Miftakhul Jannah, Jurnalis · Rabu 14 Februari 2018 14:57 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 02 14 320 1859491 lahan-terbatas-indonesia-sulit-lepas-dari-impor-bawang-putih-xYolyiyf4Z.jpg Ilustrasi: (Foto: Reuters)

JAKARTA – Sulitnya Indonesia terlepas dari importasi bawang putih, dinilai lebih karena ketiadaan pilihan. Lahan penanaman yang tidak bertumbuh signifikan menjadi salah satu penyebab utama produksi tak bisa menutupi kebutuhan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), luas lahan pertanian bawang putih di 2016 hanya mencapai 2.407 hektare. Angka ini bahkan menurun 6,09% dibandingkan lahan bawang putih yang tercatat seluas 2.563 hektare pada 2015. Memang, Kementerian Pertanian mengusahakan pertambahan luas lahan pertanian bawang putih lewat aturan wajib tanam buat importir, tapi jumlahnya dinilai tidak signifikan.

Baca Juga: Satgas Pangan Kaji Aturan Wajib Tanam Bawang Putih oleh Importir

Dengan tingkat ketergantungan pasokan sedemikian besar, Ketua Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (PATAKA) Yeka Hendra Fatika melihat, mustahil berharap swasembada dalam dua tahun ke depan.

Sejatinya, kata Yeka, bawang putih itu bukan jenis tanaman yang bisa cukup masif ditanam di negara tropis seperti Indonesia. Beberapa daerah memang cocok untuk dijadikan sentra bawang putih, contohnya di Lombok Timur-NTB, Temanggung-Jawa Tengah, Magelang-Jawa Tengah, juga di Sumatra Barat.  

Baca Juga: Bawang Putih Terancam Langka Akibat Pasokan Berkurang

Sayangnya, di daerah-daerah tersebut pula, sebenarnya lahan bawah putih sudah mendekati maksimal digunakan. Sehingga, cukup sulit melakukan perluasan di kawasan-kawasan tersebut.

“Kita perlu penambahan sekitar 50 ribu hektare lah. Nah, sekarang pertanyaannya, lahan yang dipakai itu lahan apa? Lahan yang mana?” serunya dalam keterangan tertulisnya, Rabu (14/2/2018).

Masih berdasarkan data yang sama, kebutuhan akan bawang putih ini pun dari tahun 2013—2017 diketahui terus bertumbuh. Rata-rata mencapai 8,78% per tahun. Menjadi kian ironis sebab di kala konsumsi meningkat, luas lahan tanam komoditas ini malah menyusut. 

 Baca Juga: Bulog Pikir-Pikir Dulu Beli Bawang Merah Petani Rp15.000/Kg

Dengan luasan lahan yang ada saat ini, tak heran jika produksi bawang putih lokal hanya berada di angka 21,15 ribu ton pada 2016. Tentunya ini jauh di bawah kebutuhan konsumsi nasional yang berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan) rata-rata mencapai 1,63 kilogram per kapita tiap tahun.

Pendeknya, dengan 250 juta jiwa, dibutuhkan minimal 407,5 ribu ton bawang putih guna memenuhi kebutuhan tersebut. Itu pun baru untuk konsumsi rumah tangga, belum termasuk kebutuhan untuk industri komersial.

Karena hal itulah, mayoritas kebutuhannya harus dipenuhi melalui pasokan impor. Dengan demikian, kondisi ketersediaan dan harga di dalam negeri masih sangat tergantung pada kondisi pasokan dan tingkat harga di negara produsen. Pakar pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas berpendapat, akan sangat sulit saat ini untuk menghapus impor, apalagi mencapai swasembada bawang putih. Minimnya lahan bawang putih memang menjadi alasan kuat mimpi swasembada bawang putih pada 2019 menjadi irasional.

Meskipun pada pertengahan Juni 2017 Menteri Pertanian Amran Sulaiman bilang akan menambah lahan seluas 60 ribu hektare untuk komoditas ini, menurut Dwi, hal tersebut sepertinya muskil diwujudkan.

Pasalnya, sekalipun lahan pertanian disiapkan, bawang putih tidak bisa ditanam di sembarang tempat. Bawang putih perlu ditanam di lahan yang berada minimal di atas 700 meter di atas permukaan laut. Untuk lahan dengan ketinggian demikian, kata Dwi, jarang ada yang masih kosong saat ini.

“Paling bagus di atas 1.000 meter untuk budi daya bawang putih. Nah, sekarang silakan cari. Menteri Pertanian yang katanya 60 ribu hektare di lahan-lahan ketinggian di atas 700 yang nanti bisa digunakan untuk bawang putih, silakan cari,” ucapnya.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini