Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Jangan Samakan Perlakuan Konsumen Offline dan Online, Apa Bedanya?

Koran SINDO , Jurnalis-Minggu, 18 Februari 2018 |14:56 WIB
Jangan Samakan Perlakuan Konsumen <i>Offline</i> dan <i>Online</i>, Apa Bedanya?
Ilustrasi: Shutterstock
A
A
A

Menyoal kegemaran masyarakat yang berbelanja online, Stefanus menganggap lumrah dan masih banyak juga yang berbelanja mementingkan brand ternama.

“Jangan lupa berfoto di outlet sebuah brand terkenal juga membawa kebanggaan,” tambahnya.

Hal lain yang patut dicermati tentang pola konsumsi masyarakat adalah tren konsumsi produk lokal. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Tjahya Widayanti mengatakan, pemerintah saat ini terus mengampanyekan produk-produk lokal. Produk lokal bukan sekadar difokuskan untuk perdagangan offline, melainkan juga yang dipasarkan secara online.

“Kemendag akan mengatur penyelenggara perdagangan elek tronik menjual 80% produk lokal pada marketplace. Hal ini dilakukan untuk mencegah tersainginya produk impor pada e-commerce yang beroperasi di Indonesia,” tandasnya.

Menyoroti segala tren konsumsi masyarakat saat ini, Tjahya menyebut produk yang masih memiliki permintaan tinggi di pasaran selain barang kon sumen yang bergerak cepat adalah kebutuhan beragam barang elektronik.

Sesuai kemajuan teknologi tentu generasi masa kini pun berlomba untuk terus mengikuti tren. Dengan demikian, jangan heran setiap bulan selalu ada ponsel keluaran terbaru dan tak sedikit masyarakat yang ingin terus mengikuti perubahan gaya hidup. Menyambut baik aturan yang akan dibuat Kemendag terkait produk lokal, pakar komunikasi dan periklanan Indira Abidun menyebut memang brand lokal tengah menarik perhatian masyarakat.

Menurutnya, produsen Indonesia makin pintar memanjakan konsumen dengan gaya yangtidakbisaditandingi brand luar.

“Brand lokal bisa tahu duluan apa yang orang lokal inginkan. Jadi brand lokal lebih kena atau menjual dan akhirnya jadi lebih disukai orang Indonesia,” jelasnya.

Menurut Indira, bukan hanya produk lokal yang saat ini semakin berinovasi, melainkan tempat wisata pun memiliki perkembangan yang sangat signifikan. Dia mencontohkan Kota Malang yang kini memiliki kebun binatang berkelas dunia serta beragam pusat hiburan seperti Museum Angkut dan Jatim Park 1-3 yang berkelas.

“Semua pesan yang di sampaikan dalam dunia hiburan di Malang menggunakan bahasa lokal yang orang Indonesia paham dan akhirnya menjadi sangat menarik. Oleh-olehnya pun sudah mirip dengan pineapple cake ala Taiwan, Jepang, dan soal rasa tidak kalah lezatnya ter ma suk kemasannya yang isti mewa,” ungkapnya.

Secara keseluruhan, menurut Indira, semua tren konsumsi masyarakat men dorong perekonomian Indonesia sehingga tahan banting terhadap krisis. Tetapi, hal itu tetap harus selaras dengan peningkatan produktivitas agar margin terbesar tetap masuk ke Indonesia dan bukan kenegara lain.

Indira mengungkapkan, membangun brand merupa kan hal yang sangat penting agar produsen Indonesia juga semakin sejahtera, termasuk dalam meningkatkan investasi. Dengan pembangunan brand yang baik, konsumen tentu mau bayar mahal dan mencegah persaingan potong leher melalui harga.

(Rani Hardjanti)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement