nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Beras Impor Thailand dengan Vietnam, Apa Bedanya?

Feby Novalius, Jurnalis · Selasa 27 Februari 2018 10:34 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 02 27 320 1865263 beras-impor-thailand-dengan-vietnam-apa-bedanya-poAJZYhiP0.jpg Ilustrasi Beras. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Pemerintah melalui Perum Bulog mendatangkan 261.000 ton beras impor dari kuota yang diberikan sebanyak 500.000 ton. Mayoritas beras impor berasal dari Vietnam dan Thailand.

Saat ikut melakukan peninjauan beras impor di Gudang Bulog, Jakarta, Ketua Persatuan Pengusaha Penggilingan Beras dan Padi (Perpadi) padi Sukarto Alimoeso mengatakan, ada perbedaan warna beras Thailand dengan Vietnam. Beras Thailand lebih transparan dan saat matang lebih lembek.

"Kalau kualitas pada dasarnya sama, karena ditentukan kadar air, broken, djarat susut, semua itu sudah ada aturannya kan. Jadi tergantung itu saja," ungkapnya, di Gudang Bulog, Jakarta, Selasa (27/2/2018).

Bila dilihat dari jenis beras Thailand dan Vietnam tentu berbeda. Mulai dari varietasnya yang mungkin ditanam berbeda, hal itu terliihat dari warna berasnya. Kemudian faktor lingkungan yang berbeda. "Jadi misalnya, beras dari Demak itu beda dengan Sragen. Yang pasti ini layak konsumsi," tuturnya.

Baca Juga: Pagi-Pagi Mendag ke Gudang Bulog, Cek Beras Impor dari Thailand dan Vietnam

Sekadar informasi, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah menerbitkan izin importasi beras sebanyak 500.000 ton yang diberikan kepada Perum Bulog. Namun, beras impor yang akan digunakan untuk menstabilkan harga, hanya bisa didatangkan sebanyak 281.000 ton hingga akhir Febuari 2018.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita melakukan peninjauan langsung ke Gudang Bulog Jakarta, dalam rangka melihat beras impor yang didatangkan dari Thailand dan Vietnam.

Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti mengatakan, impor beras sudah disampaikan kepada Kementerian Koordinator bidang Perekonomian dan Kementerian Perdagangan. Namun, dari penugasan sebanyak 500.000 ton, Bulog hanya bisa memasukan kurang lebih 281.000 ton.

Baca Juga: Bulog Cuma Sanggup Cari Beras Impor 281.000 Ton

Ada beberapa penyebab kenapa beras tidak bisa di impor sebanyak 500.000 ton. Pasalnya, dalam waktu sangat pendek, negara ekspor beras ke Indonesia kesulitan mengumpulkan beras beras.

Selain itu, para eksportir juga butuh waktu untuk mengemas beras yang sudah dikolekting dan disimpan dalam curah. Setelah itu, eksportir beras ke Indonesia harus mencari kapal yang cukup untuk mengirimkan beras tersebut.

dengan kedatangan beras impor ini maka cadangan beras pemerintah di Bulog akan bertambah. Dengan hal itu, maka ketika masyarakat kembali membutuhkan beras tersebut siap digelontorkan melalui mekanisme Operasi Pasar.

Dengan kedatangan beras impor ini maka cadangan beras pemerintah di Bulog akan bertambah. Dengan hal itu, maka ketika masyarakat kembali membutuhkan beras tersebut siap digelontorkan melalui mekanisme Operasi Pasar.

Guna mendatangkan beras impor sendiri, diperkirakan butuh dana sebesar Rp 3,6 triliun. Dana tersebut setelah menghitung dari mulai harga beras, bea masuk, asuransi dan beberapa hal lainya yang diperkirakan Rp7.300.

Jumlah tersebut langsung dikalikan jumlah beras yang diimpor. Artinya Rp7.300 dikalikan 500.000 ton beras hasilnya sekitar Rp3,6 triliun.

Dana sebesar Rp3,6 triliun nantinya berasal dari kas perseroan. Adapun posisi keuangan kas Bulog saat ini sebesar Rp9,8 triliun.

Jumlah tersebut merupakan akumulasi dari kas Bulog dan juga kreditor. Dimana kreditor yang dimaksud merupakan kreditor resmi dan bukanlah suplayer.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini