nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

MRT Jakarta Bahas Skema Pendanaan dengan AIIB

ant, Jurnalis · Selasa 13 Maret 2018 17:31 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 03 13 320 1872173 mrt-jakarta-bahas-skema-pendanaan-dengan-aiib-TE4kd5JKmP.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTA - PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta telah melakukan pembahasan dengan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) terkait skema pendanaan proyek MRT Jakarta di masa depan.

"Pada Senin (12/3/2018) kemarin, kami menerima kunjungan dari sejumlah petinggi AIIB di Jakarta. Ada beberapa hal yang kami bahas, diantaranya skema pendanaan MRT kedepannya," kata Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar di Jakarta, Selasa (13/3/2018).

Menurut dia, kedatangan sejumlah petinggi AIIB itu bertujuan untuk melihat langsung perkembangan protek MRT di Jakarta, sekaligus membicarakan mengenai skema pendanaan, tarif dan potensi bisnis non fare box MRT Jakarta.

"Dalam pertemuan tersebut, setidaknya ada empat skema pendanaan yang dapat dilaksanakan. Pertama, melalui pinjaman antar pemerintah dengan equity investment dari pembiayaan pemerintah," ujar William.

Kedua, sambung dia, melalui commercial corporate finance dalam bentuk asset-based, corporate bonds, atau export credit agencies untuk komponen impor. Ketiga, melalui kemitraan pemerintah dan badan usaha. Terakhir, yaitu melalui Initial Public Offering (IPO).

Sementara itu, dia menuturkan PT MRT Jakarta juga telah ditunjuk sebagai operator tunggal pengelola kawasan berorientasi transit (TOD) untuk proyek MRT fase 1 dan proyek MRT fase 2.

"Saya rasa penunjukan tersebut dapat dijadikan sebagai salah satu sumber pendapatan non-fare box yang akan memastikan kelangsungan pembangunan sekaligus operasional MRT Jakarta," tutur William.

Lebih lanjut, dia mengungkapkan hingga akhir Februari 2018, perkembangan konstruksi sipil dan arsitektural proyek MRT fase 1 telah mencapai 91,86 persen. Kemudian, dua set kereta MRT diperkirakan akan tiba di Jakarta pada 26 Maret 2018.

"Kehadiran MRT bisa menjadi salah satu solusi mengatasi kemacetan, dengan adanya perubahan gaya hidup masyarakat yang beralih dari penggunaan kendaraan pribadi ke transportasi publik, sekaligus memperbaiki kualitas udara," ungkap William.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini