nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

OJK Pelajari Bisnis Fintech Equity Crowdfunding, Apa Itu?

Ulfa Arieza, Jurnalis · Selasa 13 Maret 2018 18:56 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 03 13 320 1872228 ojk-pelajari-bisnis-fintech-equity-crowdfunding-apa-itu-rOhuvKygwz.jpg Foto: Seminar Fintech di Bali (Ulfa/Okezone)

BALI - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) makin serius dalam mengatur dan mempelajari model bisnis jasa keuangan digital atau dikenal dengan financial technology (fintech). Mengingat, perkembangan fintech sangat cepat disertai dengan jangkauan nasabah yang luas.

Fintech sendiri terdiri dari berbagai jenis model bisnis. Saat ini, OJK telah menerbitkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi yang mengatur fintech peer to peer lending (p2p).

Selanjutnya, OJK akan menerbitkan aturan mencakup seluruh jenis fintech yang masuk dalam kategori lembaga jasa keuangan.

 Baca Juga: OJK Siapkan Regulasi untuk Atur Transparansi Fintech

Tidak berhenti sampai di situ, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen mengatakan, OJK juga tengah mempelajari model bisnis equity crowdfunding. Tujuannya, ke depan OJK bisa melahirkan aturan terkait dengan fintech equity crowdfunding.

"Urgensinya supaya tidak ada publik yang dirugikan. Semua aktivitas pengumpulan dana masyarakat itu memang domain OJK," kata dia di Nusa Dua Bali, Selasa (13/3/2018).

Fintech jenis equity crowdfunding sebenarnya hampir serupa dengan fintech peer to peer lending. Bedanya, pada peer to peer lending investor akan mendapatkan kembali uang yang mereka pinjamkan ditambah bunga.

 Baca Juga: OJK Sebut Aturan Fintech Selesai Tengah Tahun

Sedangkan dalam equity crowdfunding, investor yang meminjamkan modal akan mendapatkan saham perusahaan, serta mendapatkan keuntungan perusahaan sesuai dengan porsi saham mereka.

Fintech equity crowdfunding memang masih terbilang jarang. Hoesen menjelaskan, investor yang masuk dalam equity crowdfunding bukanlah sembarang orang, namun terbatas bagi mereka yang memiliki pemahaman akan model bisnis ini serta memiliki kecukupan modal. Investor juga harus memahami seluk beluk perusahaaan yang diberikan investasi.

"Jadi nanti enggak boleh sembarangan orang bisa masuk ke situ. Kalau enggak ngerti ya jangan ke situ. Nanti rugi ribut. Jadi makanya ada istilah sophisticated dan restrictid. Investor itu juga harus ada pernyataannya, punya kekayaan berapa," kata dia.

Tidak hanya dari sisi investor, Hoesen menyebut, perusahaaan yang berpartisipasi juga harus memenuhi beberapa syarat, seperti berbentuk badan hukum. Perusahaan juga harus memiliki jumlah aset dalam batasan tertentu.

Saat ini OJK tengah mempelajari model fintech equity crowdfunding di beberapa negara yang banyak menjalankan fintech equity crowdfunding. Hoesen belum dapat menyebutkan, target waktu dari regulasi equity crowdfunding.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini