Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Anak Muda RI Makin Bersinar, Diakui di Pentas Global

Koran SINDO , Jurnalis-Sabtu, 31 Maret 2018 |10:45 WIB
Anak Muda RI Makin Bersinar, Diakui di Pentas Global
A
A
A

“Forbes 30 Under 30 Asia 2018 merayakan para pengubah permainan yang memberikan inspirasi. Mereka mampu mendisrupsi berbagai sektor di bidang mereka dan tidak mengambil opsi ‘tidak’ untuk sebuah jawaban,” ujar Editor Forbes 30 Under 30 Asia Rana Wehbe.

Dia mencontohkan seorang pengusaha muda yang mendaur ulang sepatu lama untuk dibagikan kepada orang yang membutuhkan sepatu dan hal itu ternyata berdampak miliaran dolar. Banyak juga pengusaha muda yang berani berinovasi sehingga memberikan dampak bagi komunitas di sekitarnya.

Baca Juga : Pengusaha Max Riedel Cerita tentang Kegagalan di Masa Lampau

“Tidak ada keterbatasan inovasi dari para anak muda yang mendapatkan penghargaan tahun ini,” ungkap Wehbe. Pengamat pemasaran Yuswohady menilai, masuknya deretan anak-anak muda Indonesia dalam daftar Forbes 30 Under 30 menunjukkan bahwa kreativitas mereka diakui di level global.

Hal ini didukung berkembangnya teknologi serta adanya pasar yang besar di dalam negeri. “Mereka (pemilik usa ha) adalah suplainya, demand-nya adalah masyarakat kita yang besar se bagai pasarnya,” ujar dia ke pa - da KORAN SINDO tadi malam. Yuswohady menambahkan, dilihat dari produknya, apa yang dibuat para pelaku usaha startup di Indonesia sebenarnya tidak ada unsur kebaruan.

Baca Juga : Kompetisi di Era Digital, Mumpung Masih Muda Jangan Leha-Leha

Hanya saja mereka pandai men ciptakan aplikasi dengan model bisnis yang sudah ada di luar negeri untuk diaplikasikan di dalam negeri. “Yang juga membuat pasar mereka besar adalah keberadaan media sosial. Ada revolusi informasi yang membuka mata para wirausaha muda ini lebih mudah dikenal,” ujarnya.

Sementara itu pengamat ekonomi Indonesia Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, revolusi digital yang terjadi saat ini telah memberikan ruang bagi anak muda kreatif untuk mengapitalisasi kemampuannya.

“Generasi milenial cenderung lebih cepat meraih kesuksesan di bidang bisnis daripada generasi sebelumnya. Ini juga menunjukkan bahwa kualitas sumber daya manusia Indonesia di bidang ini tidak kalah dengan negara lain,” katanya.

Memanfaatkan Medsos

Berdasarkan fakta mereka yang masuk Forbes 30 Under 30 Asia,media sosial telah menjadi penting yang menggerakkan perubahan. Para entrepreneur digital tersebut mampu mengapitalkan platform untuk memba ngun brand mereka dengan bantuan media sosial. Hal itu bisa dilihat dari Alexandra Spencer, 27, pendiri brand pakaian Realisation Par.

Model dan narablog asal Australia itu mendirikan Realisation Par bersama kawannya seorang desainer, Teale Talbot, pada 2015. “Kita tidak merasa adalah e-commerce atau toko ritel yang merefleksikan waktu,” kata Spencer. Awalnya dia mengaku menjual pakaian dan selama enam bulan tidak laku.

Dan dengan menggunakan strategi online, semuanya berubah. Spencer mampu menjual banyak produk pakaiannya. Mereka juga mempromosikannya melalui media sosial. Banyak pembeli yang suka membeli baju di Instagram daripada datang langsung ke toko. Tapi tak semua brand bisa mudah diterima di media sosial seperti Realisation Par.

“Saya pikir kita menang karena otentik,” ungkapnya. Dari Indonesia, Dian Pelangi merupakan desainer yang membuka jalur media sosial untuk mempromosikan baju yang didesainnya. Dia mampu memanfaatkan Instagram un tuk membangun bisnis dan memengaruhi tren desain di Indonesia.

Kemampuan Dian Pelangi itu menunjukkan bahwa anak muda yang menguasai media sosial akan menguasai pasar. Di China, Liang Tao mem bangun pasar dengan tiga juta pengikutnya di Sina Weibo dan We Chat, dua platform media sosial ternama di Negeri Tirai Bambu itu.

Liang mampu menjual banyak tasnya melalui me dia sosial. Dia juga memosisikan dirinya sebagai mesin penjualan. Dia bisa menjual 80 produk dalam hanya beberapa menit saja. Selain Dian Pelangi, anak muda Indonesia yang muncul adalah Rich Brian. Dia lahir dari dunia internet yang memunculkan banyak kesempatan bagi banyak orang untuk menjadi selebritas.

Remaja berusia 18 tahun itu dikenal sebagai social media darling, baik di Twitter maupun YouTube. Dia juga memiliki banyak penggemar. Rich Brian mengawali karier di dunia komedian. Tapi dia justru beralih menjadi seorang rapper.

Dia merilis single Dat $tick pada Februari 2016. Videonya telah ditonton lebih dari 87 juta klik di YouTube. Prestasinya dilirik musisi Amerika dan dia pun berkolaborasi dengan Diplo dan Pharrell dalam beberapa tur internasional. Pada awal 2018, dia merilis album berjudul “Amen”.

Selanjutnya ada nama Fransiska Hadiwidjana. Dalam bidang bisnis, namanya memang masih baru. Dia merupakan entrepreneur pendiri dan CEO Prelo. Prelo merupakan aplikasi marketplace e-commerce yang fokus untuk pemberdayaan komunitas dan menggunakan teknologi.

Ada juga nama Muhamad Risyad Ganis dan Yohanes Sugihtononugroho yang mendirikan Crowde. Itu merupakan sebuah platform penggalangan dana investasi bagi para petani di daerah. Dengan platform ini para petani mendapatkan akses pendanaan alternatif di luar perbankan dan rentenir.

Kemudian Iwan Kurniawan dan Reynold Wijaya. Mereka mendirikan Modalku. Modalku adalah platform peer-to-peer (P2P) lending yang beroperasi di Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Platform ini menghubung kan pelaku UMKM yang layak kredit dengan pemberi pin jaman yang mencari alternatif investasi melalui pasar digital. (Andika Hendra/ Yanto Kusdiantono)

(Rani Hardjanti)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement