nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

10 Tren Lebaran Zaman Now, Nomor 2 Jadi Renungan

Koran SINDO, Jurnalis · Minggu 24 Juni 2018 14:32 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 06 24 320 1913306 10-tren-lebaran-zaman-now-nomor-2-jadi-renungan-hleNwjHsFP.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Lebaran tahun ini istimewa karena tiga hal: libur Lebaran lebih panjang, cairnya THR bagi PNS dan pensiunan, serta beberapa ruas jalan tol sudah diselesaikan sehingga tahun ini mudik menjadi lebih lancar.

Tak heran jika mudik tahun ini lebih bergairah. Kemenhub memprediksi total jumlah pemudik tahun ini bisa mencapai 25 juta orang atau naik sekitar 10-12% dibandingkan tahun lalu. Tak pelak aktivitas ekonomi selama mudik pun menggeliat.

Pasokan uang tunai yang disiapkan Bank Indonesia selama Lebaran mencapai Rp188 triliun, sementara sirkulasi uang melalui remittance menurut Pos Indonesia mencapai Rp3- 4 triliun. Fantastis!!! Menyambut Lebaran 2018 ini, saya menyusun sebuah kajian singkat Lebaran Zaman Now yang mengungkap tren terkini terkait Lebaran 2018.

 Pusat Perbelanjaan Mulai Gelar Diskon Ramadan

Tren tersebut mengungkap perilaku konsumen muslim zaman now dalam berlebaran dan menjalani ritual mudik 2018. Saya akan menguraikan 10 tren dan insight berharga mengenai Lebaran zaman now.

1. Lebaran Adalah Liburan

Momen Lebaran dan mudik kini sekaligus menjadi momen liburan. Salat Ied dan halalbihalal di kampung hanya makan setengah hari. Sisanya diisi apa? Liburan dan kulineran. Waktu libur yang panjang dimanfaatkan para pemudik beserta keluarga untuk mengeksplorasi destinasi-destinasi wisata di daerahnya. Hal ini dimanfaatkan pula oleh airlines atau hotel dengan membuat paket-paket wisata Lebaran.

 

2. Lailatul Obral: The Paradox of Consumption

Setiap menjelang Lebaran atau sepuluh hari terakhir Ramadan, mal-mal di kota besar selalu menggelar late nite sale yang dipenuhi para pemburu diskon atau obral. Pada bulan suci Ramadan yang harusnya menahan godaan hawa nafsu namun terjadi paradoks, justru nafsu berbelanja menggila demi tampil sebaik mungkin pada saat Lebaran. Saat harus itikaf mengejar lailatul qadar namun tergoda mengejar “lailatul obral“.

 Pusat Perbelanjaan Mulai Gelar Diskon Ramadan

3. Online Late Nite Sale

Selain mal-mal yang menggelar late nite sale, tak ketinggalan para pemain online marketplace atau ecommerce menggelar hal serupa. Antrean panjang di mal-mal mulai bergeser ke hot deals atau flash sale yang diadakan Tokopedia atau Bukalapak. Tokopedia misalnya, menggelar program Shake-Shake yang menggabungkan pengalaman belanja offline dan online. Tujuannya tak lain membangkitkan nafsu belanja..., belanja..., belanja!!!

4. Perang Hawa Nafsu = Perang Pemasaran

Bulan Ramadan dan momen mudik Lebaran selain menjadi perang melawan hawa nafsu, juga menjadi arena pertempuran pemasaran antar-brand.Daya beli masyarakat yang tinggi setelah mendapat THR begitu menggiurkan bagi brand.Sepanjang jalur mudik selalu dipenuhi iklan maupun poskoposko yang dibuat brand untuk promosi, termasuk bertempur di ranah digital.

5. Mudik = Pamer Kesuksesan

Momen Lebaran juga menjadi ajang pamer kesuksesan terutama bagi pemudik dari kota-kota besar. Rasanya tidak lengkap Lebaran kalau belum pamer mobil baru, gadget baru, bahkan pasangan baru. Riset yang dilakukan Nielsen selama bulan Ramadan menemukan adanya peningkatan kepemilikan smartphone sebesar 7%. Rencana mereka membeli smartphone pada saat Lebaran juga mengalami peningkatan 4 kali lipat. Selain itu, kepemilikan mobil meningkat 21% dan rencana membeli mobil meningkat 3,5 kali lipat. Mobil baru dan gadget baru adalah simbol kesuksesan mereka.

 

6. Mudik is Expensive... but It’s a Must

Mudik membutuhkan suntikan dana yang tidak sedikit: dana untuk transportasi, oleh-oleh kerabat di kampung, angpau untuk keluarga, hingga ongkos untuk liburan dan kulineran selama mudik. Celakanya, harga-harga saat Lebaran membumbung selangit. Tak heran jika gaji+THR pun seketika ludes... cuma “numpang lewat”. Tapi semua itu tak menjadi masalah, karena mudik adalah “kewajiban sosial” yang harus dijalankan. Begitu anggaran defisit, kalau perlu ngutang atau menggadaikan perhiasan.

7. Mudik: Moving the Traffic Jam to Kampongs

Mudik telah memindahkan aktivitas masyarakat dari kota ke kantong-kantong mudik di kampung. Maka itu, kota yang identik dengan kemacetan, selama Lebaran akan sepi dari lalu-lalang kendaraan bermotor. Diprediksi Lebaran tahun ini akan ada sekitar 1,4 juta mobil keluar dari Jakarta menuju kantongkantong mudik di berbagai daerah. Selain itu, sekitar 6,3 juta pemudik menggunakan sepeda motor. Tak heran jika selama mudik kemacetan “diekspor” dari Jakarta ke kampung.

8. Syawalan Digital

Keriuhan bermaafan saat Lebaran juga merambah ranah digital. Kini bermaaf-maafan tak harus ketemu langsung, cukup melalui Whatsapp atau media sosial, terutama untuk teman atau kerabat yang jauh. H-1 Lebaran, ponsel tak hentinya berdering dipenuhi ucapan Lebaran di WA, Facebook, atau Twitter.

9. Zakat Zaman Now: “Fintech Attack”

Membayar zakat kini semakin techy.Baznas misalnya, tahun ini meluncurkan M-cash untuk memudahkan muslim zaman now membayar zakat. Baznas juga menggandeng Go-Pay meluncurkan layanan pembayaran zakat nontunai dengan QR Code, TCash bersama Rumah Zakat menghadirkan fitur donasi digital. Sementara OVO berkolaborasi dengan Dompet Dhuafa memberikan layanan aplikasi pembayaran zakat yang mudah, cepat, dan aman.

10. Lebaran = Fashion War

Selain sebagai ajang pamer kesuksesan, Lebaran adalah ajang pamer baju baru. Lebaran tanpa baju baru bagaikan sayur tanpa garam. Brand-brand fesyen besar, seperti Uniqlo atau Zara selalu merilis pakaian edisi khusus Lebaran. Tak hanya brand besar, yang level menengah ke bawah juga menunggangi tren baju Lebaran memanfaatkan tren baju artis yang sedang populer, seperti kaftan Raisa, abaya Syahrini, bahkan baju koko versi Black Panther.

Yuswohady

Managing Partner Inventure

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini