nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Warning Perang Dagang AS, Apa Kata Pengusaha?

Feby Novalius, Jurnalis · Sabtu 07 Juli 2018 14:19 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 07 07 320 1919280 warning-perang-dagang-as-apa-kata-pengusaha-LzZnohxlnX.jpg Ilustrasi: Foto Okezone

JAKARTA - Amerika Serikat (AS) berencana mengevaluasi 124 produk asal Indonesia yang selama diberikan perlakuan khusus. Namun hal tersebut tak berlaku bagi produk makanan dan minuman (mamin) Indonesia.

Menurut Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi Lukman, bagi industri agro dan pangan antara AS dan Indonesia masih ada ketergantungan.

"Kita banyak impor dari AS pertanian kedelai, terigu, gandum. AS butuh kita udang, ikan, kopi termasuk produk pangan olahan. Saya kira kita komplementer," ujarnya di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (7/7/2018).

 

Menurut Adhi, untuk produk mamin Indonesia di AS tidak banyak mendapat fasilitas khusus. Oleh karenanya, warning perang dagang AS yang ditujukan pada Indonesia tidak memiliki pengaruh langsung utamnya pada industri mamin.

Hanya saja, tetap apapun perang dagang AS mesti diperhatikan. "Dampak ini harus diwaspadai jangan sampai luberan di sana masuk ke Indonesia," tuturnya.

Sebelumnya, Pemerintah berupaya keras untuk mengantisipasi dampak buruk akibat perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

 

Salah satu strategi yang tengah disiapkan adalah memacu ekspor dan mengurangi impor. Hanya, bagaimana implementasi langkah tersebut, termasuk ekspor apa akan dipacu dan impor apa saja yang akan ditekan, pemerintah masih mengidentifikasi. Rencananya pemerintah membentuk task force untuk mengawal kebijakan ini.

Antisipasi mau tidak mau harus dilakukan karena perang dagang antara AS vs China kali ini tidak main-main. Washington mulai memberlakukan tarif dagang senilai 25% terhadap USD34 miliar (Rp488 triliun) produk impor China.

Beijing pun tidak tinggal diam dan melakukan balasan. Perang dagang yang disebut terbesar dalam sejarah ekonomi dunia tersebut tentu ber dam pak pada terjadinya stagnasi ekonomi global dan memicu penurunan pasar saham.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini