JAKARTA - Peternak ayam menyatakan pelarangan pemakaian antibiotic growth promotor atau AGP, menjadi pemicu dari melonjaknya harga telur ayam di pasaran. Sebab, AGP membuat pasokan ayam berkurang yang berimbas rendahnya pasokan telur di pasar dan berdampak kenaikan harga.
Adapun larangan memakai AGP diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) 14 Tahun 2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan. Beleid ini berlaku sejak 12 Mei 2017, tetapi pengawasan pelaksanaannya dimulai 1 Januari 2018. Pelarangan ini sendiri dimaksudkan membuat kualitas ternak ayam lebih baik dan tak mengandung obat-obatan.
Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Petelur Nasional Feri mengungkapkan, tanpa AGP membuat daya tahan hidup ayam berkurang, hal ini berimbas pasokan ayam petelur berkurang.
Baca Juga: Harga Telur Meroket Gara-Gara Banyak Hajatan dan Libur Panjang
"AGP itu bahan imbuhan dalam pakan agar ayam tetap sehat, tapi diduga punya residu dan bahaya bagi manusia. Pemerintah larang itu sekarang dan itu langkah yang baik. Konsekuensinya berdampak pada kesehatan ayam, lebih rentan sakit. Tapi itu tidak apa karena kita ingin produksi telur yang sehat, nutrisi untuk bangsa," paparnya di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (16/7/2018).
Feri menyebutkan, kondisi ini pasokan membuat ayam petelur berkurang 10% karena penyakit. "Saat ini (pasokan ayam petelur) turun 5%-10% karena penyakit," katanya.
Di sisi lain, kebutuhan yang tinggi saat Ramadan terlebih pada Lebaran terhadap ayam, menjadi kesempatan peternak menjual ayam petelur yang afkir atau tak produktif lagi. Hal ini menjadi biasa tiap kali menjelang Lebaran. Hal ini membuat total ayam petelur berkurang 20% sepanjang Lebaran hingga saat ini.
"Selebihnya karena afkir, yang normal jelang Lebaran. Itu kita potong karena karakteristik ayam petelur yang dagingnya keras dan dicari untuk opor, pasti carinya ayam petelur atau ayam kampung. Jadi setiap tahun jelang Lebaran pasti kita afkir," paparnya.
Sementara, Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) Heri Dermawan menambahkan, pelarangan AGP membuat kualitas ayam menjadi mudah terserang penyakit atau pun kerdil, hal ini mengganggu produktivitas.

"Kalau saya pelihara ayam 1.000, biasanya bisa panen 950 ekor, yang 50 ekor afkir. Sekarang ini kalau saya pelihara ayam 1.000 paling hanya bisa panen 800 ekor, yang 200 kerdil, enggak layak jual," jelasnya.
Di sisi lain, pengurangan suplai telur di dorong libur panjang Lebaran. Pasalnya, pekerja yang libur membuat kegiatan memproduksi ayam petelur tak dapat dilakukan, maka pasca libur peternak hanya mengandalkan stok ayam petelur lama.

Kondisi berkurangnya pasokan ayam ini, membuat produksi telur pun berkurang. Sehingga permintaan yang melonjak tak dibarengi dengan pasokan yang cukup membuat harga telur meningkat.
"Produktivitas berkurang permintaan meningkat, otomatis harga naik," katanya.
Seperti diketahui harga telur terus merangkak naik pasca Lebaran, berdasarkan Info Pangan Jakarta, Senin (16/7/2018), harga telur tertinggi Rp31.000 per kilogram yang berada di Pasar Pulo Gadung, kemudian harga terendah Rp 23.000 per kg di Pasar Cempaka Putih. Sehingga harga rata-rata telur di Jakarta Rp28.395 per kg.
Adapun, harga telur ayam tertinggi terjadi di wilayah timur Indonesia, seperti di Maluku Utara yang mencapai Rp37.850 per kg dan Papua yang sebesar Rp35.500 per kg
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.